Salah satu tempat faforitku untuk melarikan diri dari "kebisingan" society. Sambil ditemani rokok eceran Salt Warehouse, Teh Fresh rasa Apel dan Alunan Distorsi dari c.u.t.s, a day to remember.
Masih terjebak dengan efek sepi yang ditawarkan malam, lagi-lagi. hahaha. Buka Facebook dapat wejangan dari Mbah Marso dedengkot filsafat cinta. Wejangannya sih masih seputar kaum-kaum gila. Kaum Idealis Pemimpi. Garis besar wejangannya, kita harus mengalah dan mencoba mengerti kaum-kaum diluar kita untuk akhirnya kita mampu dimengerti oleh mereka. Aku masih merenungkan tesis tersebut, apakah benar setelah kita mampu mengerti mereka, mereka mampu mengerti kita? atau mereka tetap tidak mampu mengerti kita? Semua pertanyaan itu terus berputar-putar tanpa akhir, berputar-putar semakin mbulet.
Sebenarnya sih masing-masing manusia memiliki kegilaannya masing-masing. Ada yang rela menghabiskan uang berjuta-juta untuk mengikuti arus fashion yang terus berganti, ada yang rela meninggalakan keunikan dan keorisinal sifatnya hanya untuk orang yang dicintainya, ada yang rela mengimitasi tokoh idolanya supaya mirip seratus persen dan lain-lain. Bukankah mereka semua gila? Tapi kenapa, mereka tidak merasa?
Kegilaan Kaum Idealis Pemimpi adalah pola pandang dunia yang berbeda dari orang lain. Kita mencoba melihat dunia dari perspektif yang berbeda, mencoba menerapkan Teori Black Swan.
Teori ini dideskripsikan oleh Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan tahun 2007. Kriteria untuk mengidentifikasi peristiwa black swan adalah:
- Muncul secara mengejutkan
- Berpengaruh besar
- Setelah muncul dijelaskan oleh peninjauan ke belakang manusia(wikipedia.org)
Inti dari teori ini adalah semua yang terjadi didunia ini bisa terjadi tanpa kita sadari dan tanpa kita harapkan sebelumnya. Maka dari itu kita harus melihat dan berfikir out of box atau keluar dari pola pemikiran umum untuk mengerti semuanya. Kita harus sering merenungkan hal-hal yang terjadi disekitar kita dan mencoba menafsirkannya dari sudut pandang berbeda. Karena hakikat kita sebagai manusia adalah untuk berfikir dan membaca, membaca disini bukan hanya membaca buku tapi membaca realita. Manusia hanya bisa dikatakan manusia kalau mereka berfikir.
Intinya kami adalah kaum yang terus berfikir tentang dunia. Berfikir tentang hal-hal yang tidak dipikirkan oleh sebagian orang pada umumnya. Kita butuh banyak orang untuk mengerti kami dan membawa kami menjadi kaum yang berpraksis. Karena, kita hanya bisa berfikir saja. Mungkin cara yang diberikan oleh mbah marso bisa dicoba untuk sementara ini.

0 komentar:
Posting Komentar