1.
Persebaran
Manusia dan Kebudayaan Austronesia Di Indonesia
Pada dasarnya bangsa Austronesia datang
ke Indonesia melalui Filipina dan masuk ke Maluku utara. Mereka berasal dari
Taiwan dan membutuhkan waktu kurang lebih 3000 tahun untuk sampai ke selandia baru.
menurut teori Bellwood dan Dizon. Mereka membawa budaya bercocok tanam seperti
penemuan gerabah dan beliung persegi di situs Hemudu di Teluk Hangzou yang
berumur 7000 tahun. Saat mereka datang ke Indonesia, Kepulauan Indonesia telah
dihuni oleh masyarakat asli Indonesia. Setidaknya sejak akhir Pleistosen
sekitar 60.000 BP kawasan kepulauan ini telah dihuni, seperti yang terjadi di
Pulau Jawa di kawasan Gunung Sewu. Dengan pertemuan antara masyarakat Austronesia
dan Non Austronesia ini terjadilah akulturasi budaya dalam berbagai hal. Contoh
akulturasi ini dapat dilihat dari faktor teknologi alat kerang, budi daya
tanaman, domestikasi hewan dan pelayaran antar pulau. Sebenarnya sebelum
masyarakat Austronesia datang masyarakat Non Austronesia yang menghuni beberapa
kepulauan Indonesia Timur telah mengenal budaya bercocok tanam. Seperti yang
ditemukan di Situs Kuk (bagian barat Nugini) yang dilakukan oleh Golson (1990)
telah menemukan indikasi adanya pengrusakan vegetasi alam. Hal tersebut
diasosiasikan dengan adanya aktifitas pertanian sejak 9000 BP dengan
memanfaatkan rawa. Kemudian pada 3000 BP terdapat indikasi pertanian intensif
dengan pembukaan lahan. Tanaman yang dibudidayakan adalah ketela rambat dan
beberapa tanaman tropis. Mereka juga mulai membudidayakan beberapa hewan
endemik khas kepulauan Indonesia. Setelah mereka memasuki kepulauan Indonesia
bagian timur mereka menyebar ke Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Jawa
dan Kalimantan dengan membawa kebudayaan Beliung Persegi dan gerabah.
2.
Pengertian
dan Persebaran Gerabah Lapita Di Indonesia
Gerabah
lapita adalah sebuah kebudayaan gerabah yang memiliki ciri yang unik, terutama pada bentuk
dan ornamen yang terdapat di gerabah tersebut. Kebudayaan ini dibawa oleh
bangsa Austronesia, pola ornamen dari gerabah ini berbentuk geometris, serta
transformasi wajah manusia. Teknik pendekorasianpun berbeda-beda, ada yang
diukirkan dengan teknik dentate stamp atau berupa pita merah di leher kendi
(red slipped pottery). Secara geografis, kebudayaan Lapita terbentang dari
Kepulauan Bismarck di barat, melalui pulau-pulau utama Melanesia (Solomon,
Vanuatu, New Caledonia) ke Fiji, lalu mencapai Kepulauan Polinesia Tonga dan
Samoa, menempuh jarak sekitar 4.000 km. Di Indonesia gerabah ini dapat
ditemukan di papua dan dibeberapa bagian Indonesia, seperti yang ditemukan di Situs-situs Leang Tuwo Mane’e (3.500
BP), Uattamdi (3.200 BP) dan Kendenglembu (1300 BP).
Menurut Kirch ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam
menganalisis asal kebudayaan Lapita, yaitu:
1. Kebudayaan Lapita seakan
muncul secara tiba-tiba pada 3.500 tahun yang lalu, dengan tidak
teridentifikasinya tahap perkembangan yang mendahului.
2. Gerabah Lapita dari
periode awal banyak memiliki ornament.
3. Alat kerang, kait
pancing, serta ornamen yang ada di situs Lapita yang lebih tua sangat berbeda
dengan alat semacamnya di wilayah yang sama.
4. Situs-situs Lapita yang
lebih tua diwarnai dengan jaringan perdagangan yang kompleks.
Dari keempat gagasan
Kirch tersebut dapat disimpulkan bahwa kebudayaan ini bukan asli
Indonesia.
Sumber Referensi:
Angayomi. “Final Exam
Kelas Arkeologi Pasifik Chapter 02”. Universitas Gadjah Mada.
Belwood, Peter dan
Eusebio Dizon. “Austronesia Cultural Origin”.
Noerwidi, Soefwan. 2012.
“Strategi Adaptasi Austronesia di Kepulauan Indonesia”. Balar Yogyakarta.

0 komentar:
Posting Komentar