Selasa, 15 April 2014

Persebaran Manusia dan Kebudayaan Austronesia di Indonesia

1.     Persebaran Manusia dan Kebudayaan Austronesia Di Indonesia
Pada dasarnya bangsa Austronesia datang ke Indonesia melalui Filipina dan masuk ke Maluku utara. Mereka berasal dari Taiwan dan membutuhkan waktu kurang lebih 3000 tahun untuk sampai ke selandia baru. menurut teori Bellwood dan Dizon. Mereka membawa budaya bercocok tanam seperti penemuan gerabah dan beliung persegi di situs Hemudu di Teluk Hangzou yang berumur 7000 tahun. Saat mereka datang ke Indonesia, Kepulauan Indonesia telah dihuni oleh masyarakat asli Indonesia. Setidaknya sejak akhir Pleistosen sekitar 60.000 BP kawasan kepulauan ini telah dihuni, seperti yang terjadi di Pulau Jawa di kawasan Gunung Sewu.  Dengan pertemuan antara masyarakat Austronesia dan Non Austronesia ini terjadilah akulturasi budaya dalam berbagai hal. Contoh akulturasi ini dapat dilihat dari faktor teknologi alat kerang, budi daya tanaman, domestikasi hewan dan pelayaran antar pulau. Sebenarnya sebelum masyarakat Austronesia datang masyarakat Non Austronesia yang menghuni beberapa kepulauan Indonesia Timur telah mengenal budaya bercocok tanam. Seperti yang ditemukan di Situs Kuk (bagian barat Nugini) yang dilakukan oleh Golson (1990) telah menemukan indikasi adanya pengrusakan vegetasi alam. Hal tersebut diasosiasikan dengan adanya aktifitas pertanian sejak 9000 BP dengan memanfaatkan rawa. Kemudian pada 3000 BP terdapat indikasi pertanian intensif dengan pembukaan lahan. Tanaman yang dibudidayakan adalah ketela rambat dan beberapa tanaman tropis. Mereka juga mulai membudidayakan beberapa hewan endemik khas kepulauan Indonesia. Setelah mereka memasuki kepulauan Indonesia bagian timur mereka menyebar ke Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Jawa dan Kalimantan dengan membawa kebudayaan Beliung Persegi dan gerabah.






2.     Pengertian dan Persebaran Gerabah Lapita Di Indonesia
            Gerabah lapita adalah sebuah kebudayaan gerabah yang memiliki ciri yang unik, terutama pada bentuk dan ornamen yang terdapat di gerabah tersebut. Kebudayaan ini dibawa oleh bangsa Austronesia, pola ornamen dari gerabah ini berbentuk geometris, serta transformasi wajah manusia. Teknik pendekorasianpun berbeda-beda, ada yang diukirkan dengan teknik dentate stamp atau berupa pita merah di leher kendi (red slipped pottery). Secara geografis, kebudayaan Lapita terbentang dari Kepulauan Bismarck di barat, melalui pulau-pulau utama Melanesia (Solomon, Vanuatu, New Caledonia) ke Fiji, lalu mencapai Kepulauan Polinesia Tonga dan Samoa, menempuh jarak sekitar 4.000 km. Di Indonesia gerabah ini dapat ditemukan di papua dan dibeberapa bagian Indonesia, seperti yang ditemukan di Situs-situs Leang Tuwo Mane’e (3.500 BP), Uattamdi (3.200 BP) dan Kendenglembu (1300 BP).
Menurut Kirch ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam menganalisis asal kebudayaan Lapita, yaitu:
1.      Kebudayaan Lapita seakan muncul secara tiba-tiba pada 3.500 tahun yang lalu, dengan tidak teridentifikasinya tahap perkembangan yang mendahului.
2.      Gerabah Lapita dari periode awal banyak memiliki ornament.
3.      Alat kerang, kait pancing, serta ornamen yang ada di situs Lapita yang lebih tua sangat berbeda dengan alat semacamnya di wilayah yang sama.
4.      Situs-situs Lapita yang lebih tua diwarnai dengan jaringan perdagangan yang kompleks.
Dari keempat gagasan Kirch tersebut dapat disimpulkan bahwa kebudayaan ini bukan asli Indonesia. 

Sumber Referensi:
Angayomi. “Final Exam Kelas Arkeologi Pasifik Chapter 02”. Universitas Gadjah Mada.

Belwood, Peter dan Eusebio Dizon. “Austronesia Cultural Origin”.

Noerwidi, Soefwan. 2012. “Strategi Adaptasi Austronesia di Kepulauan Indonesia”. Balar Yogyakarta.

 

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

hanyamanusiabiasasamasepertikaliansemua