Selasa, 15 April 2014

Sejarah Budaya Versus Proses Budaya : Debat Klasik Dalam Arkeologi Amerika

Ringkasan Tulisan Kent V. Flannery
(Sejarah Budaya Versus Proses Budaya : Debat Klasik Dalam Arkeologi Amerika)


Titik perbedaan mendasar dari debat ini adalah perbedaan sudut pandang dalam arkeologi. Pertanyaannya adalah, apakah studi arkeologi harus dipusatkan pada “sejarah budaya” ataukah “proses budaya”. Kebanyakan ahli sejarah budaya menggunakan kerangka teoritis dengan apa yang disebut “normative”. Lewat pendekatan normative itu, mereka memperlakukan kebudayaan sebagai wadah ide-ide, nilai-nilai dan kepercayaan, yang keluar atau timbul melalui norma-norma dari sekelompok manusia. Di dalam pendekatan normative, perubahan kebudayaan adalah bagian dari perubahan ide, perubahan nilai-nilai, dan perubahan kepercayaan. Perubahan yang terjadi bisa bersifat turun waktu atau ide berubah menurut waktu. Atau bersifat geografis, seperti halnya individu itu menginggalkan kewajiban norma tempat yang ditinggalkannya dan kemudian beralih kepada kewajiban norma dari wilayah baru yang ditempatinya. Sebaliknya para penganut aliran proses budaya beranggapan bahwa kerangka normative tidak berguna untuk menerangkan keadaan perubahan kebudayaan. Para penganut aliran proses budaya melihat perilaku manusia sebagai titik pertemuan antara sejumlah besar sistem, yang masing-masing meliputi gejala budaya maupun non-budaya dan biasanya gejala budaya lebih banyak dari gejala yang non-budaya. Strategi aliran proses budaya adalah mengisolir setiap sistem dan mempelajarinya sebagai suatu variable yang terpisah. Tentunya tujuan akhirnya adalah merekonstruksi keseluruhan pola kenyataan yang ada, sekaligus jalinan hubungan di antara sistem-sistem itu (meskipun suatu analisis yang lebih kompleks sebegitu jauh di luar kesanggupan para ahli proses budaya).
Menurut Binford, klasifikasi-klasifikasi yang dibuat oleh para ahli sejarah budaya berdasarkan kerangka normative pada suatu tidak sanggup mencapai analisis tingkat “ekspalanasi”. Usaha-usaha merekonstruksi cetusan ide melalui populasi artefak tidak akan mampu mencapai apa yang disebut Binford sebagai “paleopsikologi”. Model para ahli sejarah budaya tentang norma-norma yang berasal dari dalam kebudayaan dan lingkungan alam yang berada di luar kebudayaan, tidak mungkin dapat dihubungkan dengan banyak sistem yang dijalankan manusia, dan tidak satu pun darinya yang benar-benar merefleksikan dikotomi antara kebudayaan dan alam.
Sudah menjadi pendapat umum bahwa penyebaran unsur-unsur kebudayaan terjadi melalui migrasi oleh masyarakat-masyarakat prasejarah. Ahli-ahli sejarah budaya menolak pendapat ini atas dasar suatu anggapan untuk apa orang-orang bepergian jauh hanya untuk menularkan ide. Dengan kata lain, norma-norma satu kebudayaan dipindahkan ke kebudayaan lainnya dalam jarak geografis yang amat sangat berjauhan, sehingga menyebabkan perubahan langgam artefak, tipe rumah, dan sebagainya. Menurut para ahli sejarah budaya, setiap ciri budaya mempunyai pusat asal-mula. Dan dari pusat itulah cirri-ciri budaya tersebut menyebar keluar melalui jalur-jalur difusi tersebut, ciri-ciri itu harus melewati sejumlah saringan budaya yang berfungsi sebagai alat seleksi, dimana sejumlah ciri boleh jadi ditolak dan beberapa boleh dibiarkan lewat. Jika difusi berjarak jauh, maka ciri-ciri yang terbawa akan melemah. Para penganut aliran proses budaya memperlakukan suatu ciri budaya bukan sebagai hasil akhir dari sejumlah ide, melainkan sebagai komponen dari suatu sistem yang meliputi juga banyak komponen lain, termasuk komponen non-budaya. Jadi yang diamati adalah: komponen-komponen lain apa saja yang dimiliki sistem itu, sumber energy apa yang menyebabkan sistem itu tetep berjalan, mekanisme aturan-aturan apa yang diterapkan? Beberapa ahli proses budaya mengembangkan suatu bentuk analisis yang disebut “analisis linier-regresi-ekstensif atau ada yang menyebutnya “analisis multivariasi”, dalam mengamati kluster-kluster dalam unsur budaya yang beraneka ragam, lewat cara yang bukan random.

            Perbedaan lain antara aliran sejarah budaya dan proses budaya adalah perbedaan cara penerapan pendekatan analogi-etnografi dalam interprestasi arkeologi. Sejarah budaya bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan pola kehidupan prasejarah, baru kemudian mencari literatur etnografinya, jika analoginya sesuai dengan perilaku suku bangsa yang diuraikan dalam literatur itu ia tinggal menjalin data arkeologi itu menjadi suatu kisah. Prosedur yang dilakukan aliran proses budaya berbeda. Penggunaan analogi dengan suku bangsa (etnografi) justru dimaksudkan sebagai bahan guna penyusunan sebuah model perilaku sekelompok manusia. Lalu model tersebut diuji lewat data arkeologis, sehingga menghasilkan pembuktian yang diinginkan, yakni apakah ada perbedaan antara data etnografi dengan data arkeologi. Apabila analisis itu mampu menemukan atau memecahkan faktor-faktor yang dianggap penting, maka perbedaan-perbedaan itu seharusnya tidak ada.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

hanyamanusiabiasasamasepertikaliansemua