Minggu, 06 Maret 2016

Motivasi Dehumanisasi Manusia


Oleh : Fiqri M. Tuanaya[1]

            Menurut teori hierarki motivasi manusia yang ditulis oleh Abraham Maslow seorang psikolog beraliran humanistik, bahwa pada dasarnya ada 5 basis atau faktor yang mendasari motivasi manusia. Pertama adalah  physiological needs atau faktor fisiologis (lapar, haus, tidur, dan lain – lain). Faktor kedua adalah safety needs atau rasa aman (keamanan, tempat tinggal, kesehatan, dan lain – lain). Faktor ketiga adalah belongingness and love needs atau kebutuhan sosial, cinta, dan pertemanan. Faktor keempat adalah self – esteem yang mencakup rasa ingin dihargai, dihormati, dan diterima oleh orang lain, berikutnya faktor terakhir adalah self – actualization atau penerimaan akan pengembangan potensinya yang sebesar – besarnya. Faktor kelima ini mirip dengan model eksistensial ala Jean – Paul Sartre, dimana manusia dilahirkan mengemban sebuah tugas untuk menciptakan tujuan (esensi) dari kelahirannya. Proses aktualisasi diri merupakan tahap teratas dari teori motivasi Maslow. Dari sini kita mampu melihat pada dasarnya manusia selalu tidak dapat puas. Ketika satu faktor terpuaskan, faktor lain akan muncul ke permukaan. Ini adalah karakteristik manusia yang melewati seluruh hidupnya selalu meninginkan sesuatu (Maslow, 1954: 24).
            Menurut Abraham H. Maslow dalam bukunya Motivation and Personality (1954), dia menjelaskan ketika individu lapar dia tidak hanya mempengaruhi fungsi tubuh tetapi fungsi lainnya. Persepsi individu akan berubah (dia akan berusaha mendapatkan makanan daripada ketika dia tidak lapar). Ingatan individu akan berubah (dia akan lebih mengingat tentang makanan enak dari pada biasanya). Perasaan dia akan berubah (dia akan merasa intense atau nervous daripada biasanya). Konten dari apa yang dipikirkannya akan berubah (dia akan berusaha berfikir tentang bagaimana memperoleh makanan daripada memecahkan permasalahan aljabar) (Maslow, 1954: 19-20). Dari sini mampu kita lihat bagaimana pengaruh fisiologis mampu mempengaruhi fungsi lainnya dari individu. Sifat dan pola berfikir individu dapat berubah seiring motivasi kebutuhannya yang dirasa sangat dibutuhkan pada saat ini. Meskipun begitu, paradigm lapar (Hunger as Paradigm) menurut Maslow dirasa teralu sempit dalam usaha untuk memahami kehidupan sehari – hari. Menurutnya kita perlu memasukkan unsur – unsur lain seperti, kebutuhan untuk rasa dicintai, kebutuhan untuk menunjukan prestise individu dan lain – lain.
            Pada dasarnya faktor – faktor penggerak motivasi manusia ini bekerja secara relatif berurutan dan paralel, ada kemungkinan ketika kita sudah mencapai tahap tertentu kita bisa kembali untuk memenuhi motivasi lainnya. Jika faktor pertama terpenuhi, manusia akan beranjak ke faktor berikutnya dan begitu seterusnya. Bagaimana mungkin manusia akan memikirkan cinta dan pertemanan jika faktor rasa aman dan faktor sebelumnya yaitu faktor fisiologis tidak terpenuhi. Hal ini dapat dicontohkan dengan studi kasus manusia purba (paleolithik) yang sosial - organisasi masyarakatnya berdasarkan sistem perburuan atau mencari makan. Dikarenakan mereka tidak mampu subsiten terhadap pangannya (belum mampu mendomestikasi), menyebabkan sistem sosial – budaya mereka tidak sekompleks sekarang. Dalam model evolusi sistem sosial Marshall Sahlins, kerumitan struktur sosial lahir ketika tahap Chiefdom atau kedatuaan dimana pimpinan sistem sosial bukan lagi berdasarkan kemampuan tetapi berdasarkan keturunan. Sistem sosial kedatuan ini juga sudah memiliki sistem sosial yang kompleks, dengan pembagian kerja yang sudah mulai beraneka ragam. Profesi pengrajin, profesi pimpinan agama, profesi pimpinan militer lahir dalam sistem sosial model ini. Pihak petani bekerja sebagai pensuplai kebutuhan makan profesi – profesi lain (Renfrew dan Bahn, 1991: 154-157). Berbeda dengan Tribe atau kesukuan yang belum mengenal pembagian kerja, mereka tidak mampu surplus dalam makanan, dan akhirnya setiap orang bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan fisiologis hingga tidak mampu mengembangkan aktualisasi diri secara optimal.
            Di era modern seperti sekarang, dimana sistem ekonomi kanibalistik mendominasi segala aspek, membuat manusia semakin terlihat tidak manusiawi. Manusia terdehumanisasi dan kehilangan ciri khas manusiawinya, salah satunya ciri sifat altruisme. Mereka termotivasi untuk menghalalkan segala cara agar mampu memuaskan keinginan diri sendiri. Manusia – manusia di era sekarang saling memangsa satu sama lain untuk berebut uang sebanyak mungkin. Atas alasan faktor fisiologis dan safety mereka melupakan faktor ketiga, yaitu faktor sosial. Mereka berusaha membuat diri mereka sendiri aman dengan cara mencari uang sebanyak – banyaknya dan kadangkala menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Budaya kerja yang saling menjatuhkan semakin membuat manusia teralienasi dengan lingkungan disekitarnya. Meskipun akhirnya ada beberapa manusia modern yang mampu melewati faktor ketiga dan beranjak kepada faktor keempat yaitu self – esteem tetap saja uang yang menjadi tolak ukurnya. Kebutuhan atas pengakuan yang didasarkan pada uang membuat mereka hanya memperdulikan diri sendiri. Mereka berebut pengakuan dan mencari pengakuan, membuang – buang uang yang dia dapat dari bekerja siang malam hanya untuk benda – benda yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Semua diukur dengan uang. Cinta dan pertemanan (faktor ketiga) dilihat dalam logika yang sama. Logika ini membentuk pertemanan terstratifikasi yang didasarkan pada kesamaan selera.   
            Menurut Pierre Bourdieu mengemukakan bahwa selera atau kebiasaan individu sesungguhnya merupakan bentukan habitus yang berlangsung lama. Preferensi individu terhadap aspek keduniawian kultur seperti pakaian, perabot rumah tangga, atau masakan pun dibentuk oleh habitus. Bahkan habitus ini cenderung “menempa kesatuan kelas tanpa sengaja”. Bourdieu selanjutnya menyatakan “ selera adalah ‘tukang pencari jodoh’… dengan selera, habitus tertentu memperkuat afinitasnya dengan habitus lain” (Bourdieu dalam Ritzer, 2014: 488). Bourdieu sebagaimana sering diutarakan orang juga mengemukakan bahwa tentang selera dan warna yang disukai seseorang tidak dapat diperdebatkan. Maksudnya, mengenai selera seseorang, itu merupakan pilihan pribadi. Meskipun dikatakan bersifat pribadi, akan tetapi sekaligus merupakan refleksi dari posisi sesorang dalam ruang sosialnya (Lubis, 2014: 121). Pengertian habitus sendiri menurut Pierre Bourdieu dalam bukunya Language and Symbolic Power (1991) adalah sebuah disposisi yang mempengaruhi agen dalam bertindak dan bereaksi dalam berbagai cara. Disposisi ini termasuk praktik, persepsi, dan tingkah laku yang biasa tanpa secara sadar dikordinasi dan diatur oleh sebuah “aturan” (Bourdieu, 1991: 12). Skema ini merupakan sebuah produk pembentukan proses sejarah, dimana lingkungan berperan penting dalam pembentukannya. Ketika kita berinteraksi dengan lingkungan, secara otomatis terjadi internalisasi nilai – nilai dalam pikiran kita yang nantinya menjadi pola berfikir kita. Setelah nilai – nilai itu terintenalisasi disitulah tercipta habitus. Habitus ini nantinya menjadi mekanisme manusia untuk bertindak dan bereaksi terhadap lingkungan sekitar kita, jadi ada proses dialektika antara diri dan lingkungan. Ketika habitus dikaitkan dengan motivasi akan terlihat bahwa secara tidak langsung habitus mempengaruhi manusia dalam menentukan cara bertindak dan bereaksi dalam memuaskan kebutuhan kita. Masalahnya kita hidup dalam dunia dimana semuanya diukur dengan sebanyak apa materi kita miliki. Lingkungan yang juga bersifat konsumtif ini secara otomatis membentuk pola berfikir kita (Habitus).   
Konsumerisme terlihat menjadi jiwa jaman di era modern ini. Selain itu bukti dehumanisasi lainnya adalah manusia semakin teralienasi oleh pekerjaannya. Mereka terlalu sibuk dengan kerjanya hingga faktor kelima dari teori motivasi Maslow yaitu aktualisasi diri tidak dapat terpenuhi. Maslow memberikan contoh soal Self – actualization yaitu seorang musisi harus membuat musik, seniman harus melukis, penyair harus menulis, ketika mereka secara sempurna damai dengan dirinya sendiri. Apa yang dia inginkan harus dia lakukan. Dia harus jujur dengan dirinya sendiri (Maslow, 1954: 46). Individu yang mengaktualisasi dirinya dapat dideskripsikan sebagai relatif spontan dalam prilakunya dan jauh lebih spontan dalam “inner life”, pola fikirnya, impuls, dan lain sebagainya (Maslow, 1954: 157). Bisa dilihat, selain keempat motivasi lainnya, manusia juga memiliki kebutuhan untuk mengembangkan hobi, cita – cita terdalam dan keahlian secara secara optimal dan spontan. Nantinya individu yang mampu mengoptimalisasi dirinya, akan memiliki identitas yang benar – benar diinginkannya yang tercipta melalui proses internalisasi nilai – nilai dari apa yang dilakukannya. Ketika mereka tidak mampu mengaktualisasi diri, mereka berdiri dalam ambang batas kegalauan eksistensi yang nantinya akan sangat berbahaya. Meminjam istilah Soren Kierkegaard, manusia jenis ini adalah manusia yang masih dalam taraf estetika, dimana dia akan selalu ikut arus, tidak punya identitas, dan akan selalu risau. Disinilah Nampak bukti dehumanisasi paling parah terjadi, yaitu ketika manusia sudah tidak mampu mengenal dirinya sendiri. Wajar jika tingkat stress dan kegilaan di era modern ini menjadi hal yang lumrah. Faktor penyebabnya yaitu masyarakat dewasa ini terlalu sibuk mencari uang dengan mengorbankan waktunya yang berharga. Mereka lebih tertarik dengan keinginan material tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka menganggap apa yang dilakukannya benar secara rasional. Mereka tidak menyadari bahwa pola berfikir seperti itu dikondisikan oleh sistem sosial dan struktur sosial. Seperti konsep Habitusnya Piere Bourdieu. Habitus sendiri adalah pembatinan nilai – nilai sosial – budaya yang beragam dan rasa permainan (feel for the game) yang melahirkan berbagai macam bentuk gerakan yang disesuaikan dengan permainan yang sedang dilakukan. Habitus mencakup segala jenis aktivitas budaya: produksi, persepsi, dan evaluasi terhadap praktik hidup sehari – hari (Bourdieu , 1990: 131 dalam Lubis, 2014). Persepsi, selera, pola berfikir, dan semua faktor yang menyangkut proses berbudaya manusia dikondisikan oleh struktur sosial dan sistem sosial. Meskipun begitu, disini masih ada peran manusia secara otonomi, yaitu menimbang – nimbang baik – buruknya pemahaman yang ditawarkan struktur dan sistem sosial. Disinilah celah kita untuk memulai mendiskursifkan atau mendiskusikan ulang pemahaman – pemahaman (wacana) yang ada disekitar kita agar lepas dari belenggu dominasi wacana yang bersifat dehumanisasi atau tidak manusiawi.
Hal – hal menyangkut dehumanisasi ini sebenarnya lahir dari tumbuh suburnya wacana money power, atau uang adalah segalanya. Wacana ini dilegitimasi oleh masyarakat banyak di era modern ini. Sesungguhnya wacana tentang money power ini dilestarikan dalam arena sosial (social field) dimana wacana – wacana dominan menurut Foucault atau doxa menurut Bourdieu tumbuh subur. Media dan kehidupan sosial menjadi alat propaganda untuk melanggengkan dominasi wacana ini. Sudah saatnya wacana money power ini didiskursifkan dan dipertanyakan ulang. Tatanan sosial dunia khas model Darwinian yang bersembunyi dibalik selubung progresifitas dan liberalitas indvidu nyatanya telah membawa kemanusiaan pada level terendahnya, telah terjadi dehumanisasi akut. Nyatanya atas nama progresifitas efisiensi didahulukan hingga kadangkala menanggalkan kemanusiaan. Jam kerja yang padat membuat individu – individu manusia tidak sempat untuk mengaktualisasi dirinya. Atasnama liberalitas individu, satu pihak melegitimasi eksplotasinya atas individu lain. Manusia sudah kehilangan kemanusiaannya dan mereka berebut untuk menjadi yang terkuat dalam papan permainan survival of fittest dengan mekanisme uang sebagai natural selection – nya. Seberapa kau punya uang semakin tinggi kelasmu. Padahal manusia tidak terdiri dari kelas, ordo, filum, atau istilah khas evolusi lainnya. Kita adalah satu species, yaitu manusia. Mereka beralasan bahwa semua yang dilakukan adalah sebuah aksi adaptasi, padahal dalam bukunya sendiri Darwin mengatakan bahwa adaptasi adalah sebuah hasil dari proses, bukan sebuah tindakan. Selain itu sebuah adaptasi harus dilihat dan dipahami pada tingkat populasi bukan indvidu dimana hal ini mampu menjelaskan mengapa beberapa binatang memiliki sifat altruism. Uang telah menghapus sifat altruisme yang tertanam dalam DNA kita. Seperti kata Kevin Tucker seorang penulis dan aktivis kemanusiaan asal Amerika Serikat, manusia adalah species traitor (spesies pengkhianat), berkhianat dan memangsa sejenisnya. Tapi dimana ada hegemoni, disitu ada celah untuk counter – hegemoni. Sepertinya memang metode diskursif wacana Michel Foucault lah yang  menjadi satu – satunya metode yang berguna untuk membongkar dominasi wacana narasi yang telah membentuk kesadaran palsu tiap – tiap individu dewasa ini. Sebuah pemikiran alternative mutlak diperlukan untuk mencounter wacana – wacana yang sudah terlanjur berkembang ini.
Berbicara soal sudut pandang pemikiran alternatif, pada dasarnya Agama Islam sudah menawarkan solusi untuk permasalahan dewasa ini dalam kitabnya yaitu Al – Qur’an. Al – Qur’an adalah kitab yang sangat relevan untuk dikaji ulang pemahaman yang terdapat didalamnya, seperti tujuan dari turunnya Al – Qur’an sendiri yang memang diturunkan untuk memberikan petunjuk atau pencerahan (enlightment) terhadap umat manusia di akhir zaman. Seperti yang kita tahu zaman ini adalah zaman dimana berbagai macam pemikiran tumbuh subur. Disinilah peran para intelektual Islam harus campur tangan dalam pertarungan pemikiran yang saat ini sangat didominasi oleh pemikiran khas barat. Seperti yang kita lihat permasalahan – permasalahan dewasa ini adalah berkat peng“amin”an narasi besar (grand narrative) yang bersumber dari pemikiran barat. Meskipun begitu, hal itu jangan sampai membawa kita antipati terhadap pemikiran – pemikiran barat, tetapi harus menjadi pecutan dan bahan komparasi terhadap pemikiran Islam.
Pemikiran Islam haruslah menjadi sebuah referensi utama dan pemikiran khas barat adalah bahan komparasinya. Pertarungan wacana ini dapat dimulai dengan menggali pemikiran – pemikiran filsuf era kejayaan Islam. Hal ini dimulai dari lembaga – lembaga pendidikan, lembaga pemerintah, perusahaan percetakan, lembaga – lembaga pengkaji non profit, dan lain sebagainya. Lembaga – lembaga diatas adalah lembaga yang berwenang dalam menyebarkan arus pemikiran. Selain itu pihak – pihak yang memiliki keinterestan dengan permasalahan ini perlu sesering mungkin menyebarkan pemahamannya melalui berbagai cara yang jika bisa non konvensional. Sasaran terpenting dari penyebaran pemikiran ini haruslah diprioritaskan pada anak muda sebagai calon generasi penerus bangsa. Saya sebagai anak muda merasa cara kreatif dalam dakwah sangat perlu diperhatikan, seperti strategi Sunan Kalijaga dulu. Intinya semua ini mampu terwujud jika umat Islam di Indonesia bersatu dan lebih mencari kesamaan daripada perbedaan dalam pertentangan pemikiran yang terjadi didalam umat Islam sendiri belakangan ini.

Sumber Referensi:
Baudrillard, Jean. 2000. Selected Writings (Ed. 2) (ed Mark Poster). California: Standford Univ. Press.
Bourdieu, Pierre. 1991. Language and Symbolic Power. Cambridge: Polity Press
Bourdieu, Pierre. 1989. Social Space and Symbolic Power dalam Sociological Theory, Vol. 7, No. 1, (Spring, 1989), 14-25. USA: American Sociological Association.
Featherstone, Mike. 1991. Consumer Culture and Postmodernism. London: SAGE Publications.
Foucault, Michel. 2012. Arkeologi Pengetahuan (Terj: R. Muzir). Jogjakarta: IRCiSod.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Postmodernisme: Teori dan Metode. Depok: Rajawali Pers.
Maslow, Abraham. H. 1943. A Theory of Human Motivation dalam Psychological Review, 50, 370 – 396.
Maslow, Abraham.H. 1954. Motivation and Personality. USA: Harper & Row, Publisher, Inc.
Mayr, Ernst. 2010. Evolusi: Dari Teori ke Fakta. Jakarta: KPG.
Myers, David. G. 2014. Exploring Psychology (Ed. 9). USA: Macmillan.
Renfrew, Colin dan Paul Bahn. 1991. Archaeology: Theories, Methods, and Practice. USA: Thames and Hudson Ltd.
Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern (Ed. 7). Jakarta: Prenadamedia


[1] Penulis adalah mahasiswa semester 7 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

hanyamanusiabiasasamasepertikaliansemua