Oleh
: Fiqri M. Tuanaya[1]
Menurut teori hierarki motivasi
manusia yang ditulis oleh Abraham Maslow seorang psikolog beraliran humanistik,
bahwa pada dasarnya ada 5 basis atau faktor yang mendasari motivasi manusia.
Pertama adalah physiological needs atau faktor fisiologis (lapar, haus, tidur, dan
lain – lain). Faktor kedua adalah safety
needs atau rasa aman (keamanan, tempat tinggal, kesehatan, dan lain –
lain). Faktor ketiga adalah belongingness
and love needs atau kebutuhan sosial, cinta, dan pertemanan. Faktor keempat
adalah self – esteem yang mencakup
rasa ingin dihargai, dihormati, dan diterima oleh orang lain, berikutnya faktor
terakhir adalah self – actualization
atau penerimaan akan pengembangan potensinya yang sebesar – besarnya. Faktor
kelima ini mirip dengan model eksistensial ala Jean – Paul Sartre, dimana
manusia dilahirkan mengemban sebuah tugas untuk menciptakan tujuan (esensi)
dari kelahirannya. Proses aktualisasi diri merupakan tahap teratas dari teori
motivasi Maslow. Dari sini kita mampu melihat pada dasarnya manusia selalu
tidak dapat puas. Ketika satu faktor terpuaskan, faktor lain akan muncul ke permukaan.
Ini adalah karakteristik manusia yang melewati seluruh hidupnya selalu
meninginkan sesuatu (Maslow, 1954: 24).
Menurut Abraham H. Maslow dalam
bukunya Motivation and Personality (1954), dia menjelaskan ketika individu
lapar dia tidak hanya mempengaruhi fungsi tubuh tetapi fungsi lainnya. Persepsi
individu akan berubah (dia akan berusaha mendapatkan makanan daripada ketika
dia tidak lapar). Ingatan individu akan berubah (dia akan lebih mengingat
tentang makanan enak dari pada biasanya). Perasaan dia akan berubah (dia akan
merasa intense atau nervous daripada
biasanya). Konten dari apa yang dipikirkannya akan berubah (dia akan berusaha
berfikir tentang bagaimana memperoleh makanan daripada memecahkan permasalahan
aljabar) (Maslow, 1954: 19-20). Dari sini mampu kita lihat bagaimana pengaruh
fisiologis mampu mempengaruhi fungsi lainnya dari individu. Sifat dan pola
berfikir individu dapat berubah seiring motivasi kebutuhannya yang dirasa
sangat dibutuhkan pada saat ini. Meskipun begitu, paradigm lapar (Hunger as
Paradigm) menurut Maslow dirasa teralu sempit dalam usaha untuk memahami
kehidupan sehari – hari. Menurutnya kita perlu memasukkan unsur – unsur lain
seperti, kebutuhan untuk rasa dicintai, kebutuhan untuk menunjukan prestise individu dan lain – lain.
Pada dasarnya faktor – faktor
penggerak motivasi manusia ini bekerja secara relatif berurutan dan paralel, ada
kemungkinan ketika kita sudah mencapai tahap tertentu kita bisa kembali untuk
memenuhi motivasi lainnya. Jika faktor pertama terpenuhi, manusia akan beranjak
ke faktor berikutnya dan begitu seterusnya. Bagaimana mungkin manusia akan
memikirkan cinta dan pertemanan jika faktor rasa aman dan faktor sebelumnya
yaitu faktor fisiologis tidak terpenuhi. Hal ini dapat dicontohkan dengan studi
kasus manusia purba (paleolithik) yang sosial - organisasi masyarakatnya
berdasarkan sistem perburuan atau mencari makan. Dikarenakan mereka tidak mampu
subsiten terhadap pangannya (belum mampu mendomestikasi), menyebabkan sistem
sosial – budaya mereka tidak sekompleks sekarang. Dalam model evolusi sistem
sosial Marshall Sahlins, kerumitan struktur sosial lahir ketika tahap Chiefdom atau kedatuaan dimana pimpinan
sistem sosial bukan lagi berdasarkan kemampuan tetapi berdasarkan keturunan. Sistem
sosial kedatuan ini juga sudah memiliki sistem sosial yang kompleks, dengan
pembagian kerja yang sudah mulai beraneka ragam. Profesi pengrajin, profesi
pimpinan agama, profesi pimpinan militer lahir dalam sistem sosial model ini.
Pihak petani bekerja sebagai pensuplai kebutuhan makan profesi – profesi lain
(Renfrew dan Bahn, 1991: 154-157). Berbeda dengan Tribe atau kesukuan yang belum mengenal pembagian kerja, mereka
tidak mampu surplus dalam makanan, dan akhirnya setiap orang bekerja untuk
dirinya sendiri. Mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan fisiologis
hingga tidak mampu mengembangkan aktualisasi diri secara optimal.
Di era modern seperti sekarang,
dimana sistem ekonomi kanibalistik mendominasi segala aspek, membuat manusia semakin
terlihat tidak manusiawi. Manusia terdehumanisasi dan kehilangan ciri khas
manusiawinya, salah satunya ciri sifat altruisme. Mereka termotivasi untuk
menghalalkan segala cara agar mampu memuaskan keinginan diri sendiri. Manusia –
manusia di era sekarang saling memangsa satu sama lain untuk berebut uang
sebanyak mungkin. Atas alasan faktor fisiologis dan safety mereka melupakan
faktor ketiga, yaitu faktor sosial. Mereka berusaha membuat diri mereka sendiri
aman dengan cara mencari uang sebanyak – banyaknya dan kadangkala menghalalkan
segala cara untuk mendapatkannya. Budaya kerja yang saling menjatuhkan semakin
membuat manusia teralienasi dengan lingkungan disekitarnya. Meskipun akhirnya
ada beberapa manusia modern yang mampu melewati faktor ketiga dan beranjak
kepada faktor keempat yaitu self – esteem tetap saja uang yang menjadi tolak
ukurnya. Kebutuhan atas pengakuan yang didasarkan pada uang membuat mereka
hanya memperdulikan diri sendiri. Mereka berebut pengakuan dan mencari
pengakuan, membuang – buang uang yang dia dapat dari bekerja siang malam hanya
untuk benda – benda yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Semua diukur dengan
uang. Cinta dan pertemanan (faktor ketiga) dilihat dalam logika yang sama.
Logika ini membentuk pertemanan terstratifikasi yang didasarkan pada kesamaan
selera.
Menurut Pierre Bourdieu mengemukakan
bahwa selera atau kebiasaan individu sesungguhnya merupakan bentukan habitus yang berlangsung lama.
Preferensi individu terhadap aspek keduniawian kultur seperti pakaian, perabot
rumah tangga, atau masakan pun dibentuk oleh habitus. Bahkan habitus ini
cenderung “menempa kesatuan kelas tanpa sengaja”. Bourdieu selanjutnya
menyatakan “ selera adalah ‘tukang pencari jodoh’… dengan selera, habitus
tertentu memperkuat afinitasnya dengan habitus lain” (Bourdieu dalam Ritzer,
2014: 488). Bourdieu sebagaimana sering diutarakan orang juga mengemukakan
bahwa tentang selera dan warna yang disukai seseorang tidak dapat
diperdebatkan. Maksudnya, mengenai selera seseorang, itu merupakan pilihan
pribadi. Meskipun dikatakan bersifat pribadi, akan tetapi sekaligus merupakan
refleksi dari posisi sesorang dalam ruang sosialnya (Lubis, 2014: 121).
Pengertian habitus sendiri menurut
Pierre Bourdieu dalam bukunya Language and Symbolic Power (1991) adalah sebuah disposisi yang mempengaruhi agen dalam
bertindak dan bereaksi dalam berbagai cara. Disposisi ini termasuk praktik,
persepsi, dan tingkah laku yang biasa tanpa secara sadar dikordinasi dan diatur
oleh sebuah “aturan” (Bourdieu, 1991: 12). Skema ini merupakan sebuah produk
pembentukan proses sejarah, dimana lingkungan berperan penting dalam
pembentukannya. Ketika kita berinteraksi dengan lingkungan, secara otomatis
terjadi internalisasi nilai – nilai dalam pikiran kita yang nantinya menjadi pola
berfikir kita. Setelah nilai – nilai itu terintenalisasi disitulah tercipta
habitus. Habitus ini nantinya menjadi mekanisme manusia untuk bertindak dan
bereaksi terhadap lingkungan sekitar kita, jadi ada proses dialektika antara
diri dan lingkungan. Ketika habitus dikaitkan dengan motivasi akan terlihat
bahwa secara tidak langsung habitus mempengaruhi manusia dalam menentukan cara
bertindak dan bereaksi dalam memuaskan kebutuhan kita. Masalahnya kita hidup
dalam dunia dimana semuanya diukur dengan sebanyak apa materi kita miliki.
Lingkungan yang juga bersifat konsumtif ini secara otomatis membentuk pola
berfikir kita (Habitus).
Konsumerisme
terlihat menjadi jiwa jaman di era modern ini. Selain itu bukti dehumanisasi
lainnya adalah manusia semakin teralienasi oleh pekerjaannya. Mereka terlalu sibuk
dengan kerjanya hingga faktor kelima dari teori motivasi Maslow yaitu
aktualisasi diri tidak dapat terpenuhi. Maslow memberikan contoh soal Self – actualization yaitu seorang
musisi harus membuat musik, seniman harus melukis, penyair harus menulis,
ketika mereka secara sempurna damai dengan dirinya sendiri. Apa yang dia
inginkan harus dia lakukan. Dia harus jujur dengan dirinya sendiri (Maslow,
1954: 46). Individu yang mengaktualisasi dirinya dapat dideskripsikan sebagai
relatif spontan dalam prilakunya dan jauh lebih spontan dalam “inner life”,
pola fikirnya, impuls, dan lain sebagainya (Maslow, 1954: 157). Bisa dilihat,
selain keempat motivasi lainnya, manusia juga memiliki kebutuhan untuk
mengembangkan hobi, cita – cita terdalam dan keahlian secara secara optimal dan
spontan. Nantinya individu yang mampu mengoptimalisasi dirinya, akan memiliki
identitas yang benar – benar diinginkannya yang tercipta melalui proses
internalisasi nilai – nilai dari apa yang dilakukannya. Ketika mereka tidak
mampu mengaktualisasi diri, mereka berdiri dalam ambang batas kegalauan
eksistensi yang nantinya akan sangat berbahaya. Meminjam istilah Soren
Kierkegaard, manusia jenis ini adalah manusia yang masih dalam taraf estetika,
dimana dia akan selalu ikut arus, tidak punya identitas, dan akan selalu risau.
Disinilah Nampak bukti dehumanisasi paling parah terjadi, yaitu ketika manusia
sudah tidak mampu mengenal dirinya sendiri. Wajar jika tingkat stress dan
kegilaan di era modern ini menjadi hal yang lumrah. Faktor penyebabnya yaitu
masyarakat dewasa ini terlalu sibuk mencari uang dengan mengorbankan waktunya
yang berharga. Mereka lebih tertarik dengan keinginan material tanpa memikirkan
apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka menganggap apa yang dilakukannya
benar secara rasional. Mereka tidak menyadari bahwa pola berfikir seperti itu
dikondisikan oleh sistem sosial dan struktur sosial. Seperti konsep Habitusnya
Piere Bourdieu. Habitus sendiri adalah pembatinan nilai – nilai sosial – budaya
yang beragam dan rasa permainan (feel for the game) yang melahirkan berbagai
macam bentuk gerakan yang disesuaikan dengan permainan yang sedang dilakukan.
Habitus mencakup segala jenis aktivitas budaya: produksi, persepsi, dan
evaluasi terhadap praktik hidup sehari – hari (Bourdieu , 1990: 131 dalam
Lubis, 2014). Persepsi, selera, pola berfikir, dan semua faktor yang menyangkut
proses berbudaya manusia dikondisikan oleh struktur sosial dan sistem sosial.
Meskipun begitu, disini masih ada peran manusia secara otonomi, yaitu menimbang
– nimbang baik – buruknya pemahaman yang ditawarkan struktur dan sistem sosial.
Disinilah celah kita untuk memulai mendiskursifkan atau mendiskusikan ulang pemahaman
– pemahaman (wacana) yang ada disekitar kita agar lepas dari belenggu dominasi
wacana yang bersifat dehumanisasi atau tidak manusiawi.
Hal
– hal menyangkut dehumanisasi ini sebenarnya lahir dari tumbuh suburnya wacana money power, atau uang adalah segalanya.
Wacana ini dilegitimasi oleh masyarakat banyak di era modern ini. Sesungguhnya
wacana tentang money power ini
dilestarikan dalam arena sosial (social
field) dimana wacana – wacana dominan menurut Foucault atau doxa menurut Bourdieu tumbuh subur. Media
dan kehidupan sosial menjadi alat propaganda untuk melanggengkan dominasi
wacana ini. Sudah saatnya wacana money power ini didiskursifkan dan
dipertanyakan ulang. Tatanan sosial dunia khas model Darwinian yang bersembunyi
dibalik selubung progresifitas dan liberalitas indvidu nyatanya telah membawa
kemanusiaan pada level terendahnya, telah terjadi dehumanisasi akut. Nyatanya
atas nama progresifitas efisiensi didahulukan hingga kadangkala menanggalkan
kemanusiaan. Jam kerja yang padat membuat individu – individu manusia tidak
sempat untuk mengaktualisasi dirinya. Atasnama liberalitas individu, satu pihak
melegitimasi eksplotasinya atas individu lain. Manusia sudah kehilangan
kemanusiaannya dan mereka berebut untuk menjadi yang terkuat dalam papan
permainan survival of fittest dengan
mekanisme uang sebagai natural selection
– nya. Seberapa kau punya uang semakin tinggi kelasmu. Padahal manusia tidak
terdiri dari kelas, ordo, filum, atau istilah khas evolusi lainnya. Kita adalah
satu species, yaitu manusia. Mereka beralasan bahwa semua yang dilakukan adalah
sebuah aksi adaptasi, padahal dalam bukunya sendiri Darwin mengatakan bahwa
adaptasi adalah sebuah hasil dari proses, bukan sebuah tindakan. Selain itu
sebuah adaptasi harus dilihat dan dipahami pada tingkat populasi bukan indvidu
dimana hal ini mampu menjelaskan mengapa beberapa binatang memiliki sifat
altruism. Uang telah menghapus sifat altruisme yang tertanam dalam DNA kita.
Seperti kata Kevin Tucker seorang penulis dan aktivis kemanusiaan asal Amerika
Serikat, manusia adalah species traitor (spesies
pengkhianat), berkhianat dan memangsa sejenisnya. Tapi dimana ada hegemoni,
disitu ada celah untuk counter – hegemoni. Sepertinya memang metode diskursif
wacana Michel Foucault lah yang menjadi
satu – satunya metode yang berguna untuk membongkar dominasi wacana narasi yang
telah membentuk kesadaran palsu tiap – tiap individu dewasa ini. Sebuah
pemikiran alternative mutlak diperlukan untuk mencounter wacana – wacana yang
sudah terlanjur berkembang ini.
Berbicara
soal sudut pandang pemikiran alternatif, pada dasarnya Agama Islam sudah
menawarkan solusi untuk permasalahan dewasa ini dalam kitabnya yaitu Al –
Qur’an. Al – Qur’an adalah kitab yang sangat relevan untuk dikaji ulang
pemahaman yang terdapat didalamnya, seperti tujuan dari turunnya Al – Qur’an
sendiri yang memang diturunkan untuk memberikan petunjuk atau pencerahan
(enlightment) terhadap umat manusia di akhir zaman. Seperti yang kita tahu
zaman ini adalah zaman dimana berbagai macam pemikiran tumbuh subur. Disinilah
peran para intelektual Islam harus campur tangan dalam pertarungan pemikiran
yang saat ini sangat didominasi oleh pemikiran khas barat. Seperti yang kita
lihat permasalahan – permasalahan dewasa ini adalah berkat peng“amin”an narasi
besar (grand narrative) yang bersumber dari pemikiran barat. Meskipun begitu,
hal itu jangan sampai membawa kita antipati terhadap pemikiran – pemikiran
barat, tetapi harus menjadi pecutan dan bahan komparasi terhadap pemikiran
Islam.
Pemikiran
Islam haruslah menjadi sebuah referensi utama dan pemikiran khas barat adalah
bahan komparasinya. Pertarungan wacana ini dapat dimulai dengan menggali
pemikiran – pemikiran filsuf era kejayaan Islam. Hal ini dimulai dari lembaga –
lembaga pendidikan, lembaga pemerintah, perusahaan percetakan, lembaga –
lembaga pengkaji non profit, dan lain sebagainya. Lembaga – lembaga diatas
adalah lembaga yang berwenang dalam menyebarkan arus pemikiran. Selain itu
pihak – pihak yang memiliki keinterestan
dengan permasalahan ini perlu sesering mungkin menyebarkan pemahamannya melalui
berbagai cara yang jika bisa non konvensional. Sasaran terpenting dari
penyebaran pemikiran ini haruslah diprioritaskan pada anak muda sebagai calon
generasi penerus bangsa. Saya sebagai anak muda merasa cara kreatif dalam
dakwah sangat perlu diperhatikan, seperti strategi Sunan Kalijaga dulu. Intinya
semua ini mampu terwujud jika umat Islam di Indonesia bersatu dan lebih mencari
kesamaan daripada perbedaan dalam pertentangan pemikiran yang terjadi didalam
umat Islam sendiri belakangan ini.
Sumber Referensi:
Baudrillard,
Jean. 2000. Selected Writings (Ed. 2) (ed Mark Poster). California: Standford
Univ. Press.
Bourdieu,
Pierre. 1991. Language and Symbolic Power. Cambridge: Polity Press
Bourdieu,
Pierre. 1989. Social Space and Symbolic Power dalam Sociological Theory, Vol.
7, No. 1, (Spring, 1989), 14-25. USA: American Sociological Association.
Featherstone,
Mike. 1991. Consumer Culture and Postmodernism. London: SAGE Publications.
Foucault,
Michel. 2012. Arkeologi Pengetahuan (Terj: R. Muzir). Jogjakarta: IRCiSod.
Lubis,
Akhyar Yusuf. 2014. Postmodernisme: Teori dan Metode. Depok: Rajawali Pers.
Maslow,
Abraham. H. 1943. A Theory of Human Motivation dalam Psychological Review, 50,
370 – 396.
Maslow,
Abraham.H. 1954. Motivation and Personality. USA: Harper & Row, Publisher,
Inc.
Mayr,
Ernst. 2010. Evolusi: Dari Teori ke Fakta. Jakarta: KPG.
Myers,
David. G. 2014. Exploring Psychology (Ed. 9). USA: Macmillan.
Renfrew,
Colin dan Paul Bahn. 1991. Archaeology: Theories, Methods, and Practice. USA:
Thames and Hudson Ltd.
Ritzer, George. 2014.
Teori Sosiologi Modern (Ed. 7). Jakarta: Prenadamedia
0 komentar:
Posting Komentar