Minggu, 06 Maret 2016

Perbedaan Primata Besar dan Manusia

oleh: Fiqri M Tuanaya

1.     Anatomi
            Secara garis besar, yang membedakan manusia daripada kera besar terlihat dalam 3 macam bentuk adaptasi dari tengkorak secara morfologi dan fisiologi. Bentuk adaptasi ini adalah volume otaknya, postur tegaknya, dan penggunaan gigi. Pertama, volume otak manusia dan kera besar. sangat berbeda. Volume otak manusia berkisar antara 1.100 – 1.450 cc, sedangkan simpanse paling besar berukuran 450 cc. Kecilnya ukuran volume pada otak kera besar dipengaruhi oleh besarnya serat – serat otot pada kedua tengkorak di sisi kiri dan kanan yang biasa disebut otot temporalis. Pada gorilla, simpanse laki-laki, A. Afarensis, dan A. Robustus, otot temporalis pada kedua sisi kepala bertemu di bagian tengah atas tengkorak, dan membentuk punggungan tulang, yang dikenal dengan sebutan sagittal crest (Almquist, Alan .J dan Noel T. Boaz, 2002: 262). Keadaan sagittal crest ini membuat wajah manusia dank era besar menjadi berbeda. Contohnya kera besar memiliki tulang dahi lebih kecil daripada manusia. Volume otak ini juga berkaitan dengan daya serap energi, dimana manusia menggunakan 25% energi yang didapat dari nutrisi dan 20% oksigen yang kita hirup. Kedua, postur bagaimana cara bergerak dan postur tegak manusia dan kera besar sangat berbeda. Beberapa kera besar mengembangkan 2 macam cara bergerak, yaitu arm swinger dan knuckle walker. Arm swinger ini dapat dilihat dari jenis kera besar orang hutan dan knuckle walker dapat dilihat pada gorilla, shimpanze, dan bonobo. Sedangkan manusia mengembangkan sebuah metode yang biasa disebut bipedal.  Pada manusia terjadi evolusi yang menyebabkan perkembangan pada tulang, talus, tumit, tulang runcing (medial cuneiform), tulang metatarsal, dan tulang phallanx (pergelangan kaki)  yang akhirnya manusia bisa berjalan diatas kedua kakinya secara seimbang (bipedal). Sedangkan pada kera besar tulang yang berkembang lebih pada bagian-bagian pada tulang lengan (radius, ulna, humerus) dan tulang phalanx (pergelangan tangan) yang menyebabkan mereka lebih mudah bergelantungan dan berjalan dengan bantuan tangan. Selain itu terjadi juga perkembangan evolusi pada tulang pinggang. Pada tulang manusia, tulang pinggang relatif lebih kecil dan fleksibel, yang berguna dalam menopang gaya berjalan tegaknya.
Ketiga, perbedaan pada bentuk dan struktur gigi antara kera besar dan manusia sangat berbeda. Pada kera besar, gigi taringnya lebih besar dan lebar dari pada gigi manusia dan gigi gerahamnya tidak begitu banyak digunakan. Keberadaan otot temporalis yang lebih besar dan kuat pada kera besar membantunya dalam menggigit. Hal ini menunjukan subsistensi diet yang berbeda antara kera besar dan manusia, meskipun diketahui beberapa kera besar juga omnivora sama dengan manusia.
2.     Perilaku
            Secara perilaku kera besar sangat berbeda dengan manusia. Contohnya dalam segi komunikasi dan organisasi sosial. Manusia adalah satu – satunya makhluk hidup yang mampu berkomunikasi menggunakan symbol – symbol tertulis, yaitu huruf. Sedangkan monyet besar berkomunikasi menggunakan bermacam-macam isyarat, seperti ekspresi wajah dan gerak tubuh yang spesifik, dimana di setiap jenis kera besar berbeda. Cara komunikasi yang dipakai ini diajarkan melalui proses imitasi. Tiap – tiap kera besar yang masih anak – anak meniru dari induknya bagaimana mereka berkomunikasi dan perilaku dalam kelompoknya, termasuk dalam mencari makan. Sedangkan dari segi organisasi sosial, kera besar hanya mampu sampai taraf yang menyerupai Band dalam klasifikasi organisasi sosial yang dibuat oleh elman service dan marshall sahlins. Dari model perilaku sosial yang ditulis oleh Noel T. Boaz dan Alan J. Almquist di bukunya Biological Anthropology, kera besar Baboon telah mengembangkan 2 macam organisasi sosial yaitu, multiple group pada baboon biasa dan single – male harem pada hamadryas baboon. Selain itu simpanse juga mengembangkan sebuah organisasi sosial yang disebut Fission – fussion society, dimana pada satu kumpulan simpanse tiap tiap simpanse jantan bebas berhubungan dengan simpanse betina manapun.

Sumber Referensi:
Boaz, Noel .T dan Alan J. Almquist. 2002. Biological Anthropology. New Jersey: Pearson Education Inc

Renfrew, Colin dan Paul Bahn. 1991. Archaeology: Theories, Methods, and Practice. USA: Thames and Hudson Ltd. 

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

hanyamanusiabiasasamasepertikaliansemua