oleh: Fiqri M Tuanaya
1. Anatomi
Secara garis besar, yang membedakan
manusia daripada kera besar terlihat dalam 3 macam bentuk adaptasi dari
tengkorak secara morfologi dan fisiologi. Bentuk adaptasi ini adalah volume
otaknya, postur tegaknya, dan penggunaan gigi. Pertama, volume otak manusia dan kera besar. sangat berbeda. Volume
otak manusia berkisar antara 1.100 – 1.450 cc, sedangkan simpanse paling besar
berukuran 450 cc. Kecilnya ukuran volume pada otak kera besar dipengaruhi oleh
besarnya serat – serat otot pada kedua tengkorak di sisi kiri dan kanan yang
biasa disebut otot temporalis. Pada gorilla, simpanse laki-laki, A. Afarensis,
dan A. Robustus, otot temporalis pada kedua sisi kepala bertemu di bagian
tengah atas tengkorak, dan membentuk punggungan tulang, yang dikenal dengan
sebutan sagittal crest (Almquist,
Alan .J dan Noel T. Boaz, 2002: 262). Keadaan sagittal crest ini membuat wajah
manusia dank era besar menjadi berbeda. Contohnya kera besar memiliki tulang
dahi lebih kecil daripada manusia. Volume otak ini juga berkaitan dengan daya
serap energi, dimana manusia menggunakan 25% energi yang didapat dari nutrisi
dan 20% oksigen yang kita hirup. Kedua,
postur bagaimana cara bergerak dan postur tegak manusia dan kera besar sangat
berbeda. Beberapa kera besar mengembangkan 2 macam cara bergerak, yaitu arm swinger dan knuckle walker. Arm swinger ini dapat dilihat dari jenis kera besar
orang hutan dan knuckle walker dapat dilihat pada gorilla, shimpanze, dan
bonobo. Sedangkan manusia mengembangkan sebuah metode yang biasa disebut
bipedal. Pada manusia terjadi evolusi
yang menyebabkan perkembangan pada tulang, talus, tumit, tulang runcing (medial
cuneiform), tulang metatarsal, dan tulang phallanx (pergelangan kaki) yang akhirnya manusia bisa berjalan diatas
kedua kakinya secara seimbang (bipedal). Sedangkan pada kera besar tulang yang
berkembang lebih pada bagian-bagian pada tulang lengan (radius, ulna, humerus)
dan tulang phalanx (pergelangan tangan) yang menyebabkan mereka lebih mudah
bergelantungan dan berjalan dengan bantuan tangan. Selain itu terjadi juga
perkembangan evolusi pada tulang pinggang. Pada tulang manusia, tulang pinggang
relatif lebih kecil dan fleksibel, yang berguna dalam menopang gaya berjalan
tegaknya.
Ketiga,
perbedaan pada bentuk dan struktur gigi antara kera besar dan manusia sangat
berbeda. Pada kera besar, gigi taringnya lebih besar dan lebar dari pada gigi
manusia dan gigi gerahamnya tidak begitu banyak digunakan. Keberadaan otot
temporalis yang lebih besar dan kuat pada kera besar membantunya dalam
menggigit. Hal ini menunjukan subsistensi diet yang berbeda antara kera besar
dan manusia, meskipun diketahui beberapa kera besar juga omnivora sama dengan
manusia.
2. Perilaku
Secara perilaku kera besar sangat berbeda
dengan manusia. Contohnya dalam segi komunikasi dan organisasi sosial. Manusia
adalah satu – satunya makhluk hidup yang mampu berkomunikasi menggunakan symbol
– symbol tertulis, yaitu huruf. Sedangkan monyet besar berkomunikasi
menggunakan bermacam-macam isyarat, seperti ekspresi wajah dan gerak tubuh yang
spesifik, dimana di setiap jenis kera besar berbeda. Cara komunikasi yang
dipakai ini diajarkan melalui proses imitasi. Tiap – tiap kera besar yang masih
anak – anak meniru dari induknya bagaimana mereka berkomunikasi dan perilaku
dalam kelompoknya, termasuk dalam mencari makan. Sedangkan dari segi organisasi
sosial, kera besar hanya mampu sampai taraf yang menyerupai Band dalam klasifikasi organisasi sosial
yang dibuat oleh elman service dan marshall sahlins. Dari model perilaku
sosial yang ditulis oleh Noel T. Boaz dan Alan J. Almquist di bukunya
Biological Anthropology, kera besar Baboon telah mengembangkan 2 macam
organisasi sosial yaitu, multiple group pada baboon biasa dan single – male
harem pada hamadryas baboon. Selain itu simpanse juga mengembangkan sebuah
organisasi sosial yang disebut Fission – fussion society, dimana pada satu
kumpulan simpanse tiap tiap simpanse jantan bebas berhubungan dengan simpanse
betina manapun.
Sumber
Referensi:
Boaz, Noel .T dan Alan J.
Almquist. 2002. Biological Anthropology. New Jersey: Pearson Education Inc
Renfrew, Colin dan Paul Bahn.
1991. Archaeology: Theories, Methods, and Practice. USA: Thames and Hudson Ltd.
0 komentar:
Posting Komentar