Senin, 07 Maret 2016

Bali Dunia Hipperealitas - Pendekatan Teori Baudrillard

Bali Dunia Hipperealitas?
Fiqri Muliathoha Tuanaya[1]

Pendahuluan
Menurut Baudrillard sekarang kita hidup di jaman Simulacra, dimana semua yang ada di hadapan kita ada simulasi hasil reproduksi dari realitas. Tidak ada lagi hakikat dari realitas yang sebenarnya. Kita lebih percaya dengan reproduksi hasil realitas, seperti yang biasa ditampilkan di televisi mapun media informasi lainnya. Simulacra sendiri menurut The Oxford English Dictionary adalah “aksi atau tindakan menirukan dengan maksud menipu”. Selanjutnya dikemukakan penjelasan lain: asumsi atau penampilan palsu, kemiripan permukaan, tiruan dari sesuatu. Konsep simulasi seperti ini bisa diberikan penjelasan dengan simulasi sebagai tiruan pesawat terbang melalui tiruannya (Lubis, 2014: 180).
Sherry Turkle (1997) melukiskan tentang realitas visual sebagai berikut: “realitas virtual memberikan gambaran kehidupan yang lebih nyata dibandingkan dengan kehidupan nyata itu sendiri”. Yang nyata lenyap karena longsoran simulasi dan yang muncul adalah realitas yang mengatasi realitas real (hyperrealitas) (Lubis, 2014: 185). Baudrillard dalam tulisannya yang berjudul Simulacra dan Simulations (1983) memberikan contoh untuk menggambarkan Simulacrum dan Hyperrealitas ini dengan sebuah cerita dari Jorge Borges. Cerita ini menceritakan dimana seorang cartographers kekaisaran membuat sebuah peta yang sangat detail dan akhirnya berhasil memetakan secara keseluruhan dari wilayah kekaisaran tersebut. Peta yang dibuat oleh cartographers ini nantinya menimbulkan kehebohan dan ditolak oleh pihak kerajaan. Beberapa sobekannya yang tersisa dibuang didalam gurun pasari (deserts). Keindahan metafisik abstraksi yang hancur ini, memperlihatkan bukti kebanggaan kekaisaran dan membusuk seperti bangkai, kembali ke substansinya yaitu tanah, daripada berakhir sebagai akibat dari pelapukan hal ini malahan berakhir menjadi sebuah kebingungan dengan hal yang nyata[2]. Dilihat dari contoh diatas kita bisa melihat bahwa sebuah abstraksi dari realitas tidak hanya direproduksi sekali, tetapi berulang – ulang kali dan ketika hasil dari reproduksi realitas itu kembali ke yang real dia menjadi tidak dapat dibedakan dengan yang real (melapuk dan bersatu dengan tanah gurun pasir).
Kita tidak lagi bisa membagi dengan jelas mana realitas yang benar, mana yang semu, dan mana yang palsu. Dalam dunia simulasi ini batas antara yang real dengan yang imajiner atau palsu, tiruan tidak hanya berbaur dan menyatu, tetapi citraan lebih unggul dan lebih dipercaya dari fakta. Era Simulasi dan hipperrealitas menurut Baudrillard sebagai bagian rangkaian fase citraan, rangkaian itu dijelaskan sebagai berikut:
a.       Citraan sebagai refleksi dasar dari realitas.
b.      Citraan menutupi dan mendistorsi realitas.
c.       Citraan menutup ketiadaan atau lenyapnya dasar dari realitas.
d.      Citraan melahirkan ketidakhubungan terhadap berbagai realitas apapun, citraan bukanlah kemurnian simuclarum itu sendiri (Baudrillard dalam Lubis, 2014: 186).
Sebagai contoh adalah kita membuat sebuah peta berdasarkan sebuah wilayah, dan nantinya ketika peta itu sudah jadi, kita lebih percaya pada peta untuk menunjukkan garis pemisah antara suatu wilayah (contoh perebutan patok batas wilayah di Kalimantan Tengah). Inilah realitas dari dunia Hiperrealitas coba bandingkan dengan filsafat idealisme Plato. Bisa dibilang kita mungkin lebih suka hidup dalam simulasi.

Bali dan Dunia Hiperrealitas
            Disneyland adalah sebuah model sempurna dari semua susunan jeratan simulasi. Semuanya ini bermula dari sebuah permainan ilusi dan khayalan (phantasm): bajak laut, penjelajah, dunia masa depan, dan lain – lain[3]. Dunia simulasi ini dipenuhi oleh berbagai macam alat – alat yang mencoba untuk membuat rekaan ini terlihat seasli mungkin. Kita menjadi merasakan sensasi berada dalam dunia lain yang seutuhnya terpisah dari dunia luar. Disneyland memiliki batas – batasan sendiri berupa tembok, dengan parkiran diluarnya, memperlihatkan sebuah dunia mikrokosmos buatan. Disneyland dibungkus dengan fakta bahwa ini adalah sebuah dunia yang “nyata”, yang semuanya adalah bagian dari sebuah negara yang “nyata”  Negara Amerika.
            Bali sebagai pusat pariwisata di Indonesia, sebenarnya memiliki beberapa tempat mikrokosmos simulasi semacam Disneyland. Seperti contohnya adalah Bali Bird Park. Bali Bird Park membuat sebuah simulasi dunia lengakap dengan habitat buatan dimana binatang – binatang (burung dan reptil) dari seluruh Indonesia dan luar negeri dikumpulkan. Burung – burung itu ditempatkan dalam sebuah area buatan yang mencontoh habitat asalnya. Kita datang kesana dan melihat burung – burung secara langsung, tanpa pernah mau langsung ketempatnya. Di Bali Bird Park sendiri ditempatkan berbagai macam fasilitas yang membuat kita nyaman pergi berada disana. Kita tidak pernah mau melihat burung jalak bali langsung di tempatnya Bali Barat, dengan alasan jauh. Kita menjadi lebih percaya dan suka dengan dunia simulasi daripada, dunia yang “real”. Selain dari bentuk dunia simulasi yang mampu dilihat bentuknya (material), sebenarnya saat ini ada beberapa contoh lain reproduksi realitas yang tidak berbentuk tempat. Sebagai contoh adalah lukisan, foto, film, dan bentuk – bentuk visual lainnya.
 Contoh lainnya, ketika kita melihat acara televisi tentang sebuah acara petualangan, kita cenderung menikmatinya. Padahal yang ada dihadapan kita bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi merupakan hasil reproduksi dari realitas. Kita menjadi lebih banyak menghabiskan waktu didepan layar televisi dari pada harus berpetualang langsung. Kita lebih menyukai hanya sekedar penikmat atau penonton saja daripada menjadi pelaku. Kita lebih menyukai menonton pementasan perang pandan melalui TV dari pada harus ke tempatnya langsung. Kita lebih menyukai keindahan alam Bali dari lukisan daripada harus melihatnya langsung. Itu yang disebut oleh Baudrillard sebagai jaman penonton. Selain itu contohnya lainnya, kita jadi menghabiskan waktu didepan gadget dan menikmati interaksi semu melalui media sosial. Gadget kita menciptakan sebuah dunia simulasi, dimana media sosial memproyeksikan sebuah realitas semu interaksi. Kita berinteraksi tanpa harus bertatap muka, hingga terkadang kita malahan melupakan interaksi yang nyata dengan orang – orang disekitar kita. Media sosial mendistorsi makna dari sebuah interaksi nyata. Sekarang mari kita lihat berapa banyak kawan – kawan disekitar kita yang tidak memiliki akun media sosial? Bisa dihitung dengan jari? Atau malahan tidak bisa dihitung dengan jari, karena memang tidak ada yang tidak menggunakan media sosial?
Pada dunia hiperrealitas media informasi, hiburan, komunikasi memberikan pengalaman yang dominan serta melibatkan kehidupan sehari – hari yang dangkal. Individu memasuki dunia hiperrealitas melalui teknologi baru. Media berhenti menjadi cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri, dan bahkan menjadi lebih nyata dari realitas itu sendiri. Tanpa kita sadar, buku yang kita baca, film yang kita tonton, semuanya menawarkan gaya hidup lain yang sangat berbeda dengan gaya hidup khas Kehidupan Bali. Gaya hidup baru ini tentu sangat berbeda dan kadangkala tidak bisa diterapkan dalam Kebudayaan Bali. Globalisasi informasi menjadi jembatan yang membawa pemikiran dan gaya hidup baru masuk ke Bali. Kita perlu filter untuk mampu menyaring informasi – informasi yang terus berdatangan agar Kebudayaan Bali tidak hilang. Karena seperti yang dibilang di atas, media menawarkan sebuah realitas yang jauh terlihat sebagai realitas dari realitas itu sendiri. Jadi hati – hati dengan pemikiran yang ditawarkan oleh media informasi. Kita tidak bisa lepas dari dunia informasi, tapi paling tidak kita harus mampu memfilternya. Selain itu bahaya dari citraan semu ini kita menjadi ketergantungan dengan informasi. Massa dilihat sebagai sebuah “lubang hitam” yang menyerap semua makna, informasi, komunikasi, pesan, dan sebagainya, dengan demikian membuat mereka menjadi tidak bermakna… massa menempuh jalan mereka sendiri, tak mengindahkan upaya yang bertujuan memanipulasi mereka (kellner dalam Ritzer, 2015: 599). Massa menjadi sangat ketergantungan dengan media. Individu – individu ini menjadi sekedar penonton dan memilih untuk menjadi apatis.
Bali dewasa ini sudah semakin banyak dipenuhi oleh hal – hal yang berbau simulasi baik yang berbentuk immaterial seperti informasi dan yang berbentuk material. Kebudayaan terus direproduksi ulang agar mampu menarik minat wisatawan. Lihatlah polemik pembangunan Teluk Benoa yang katanya akan dijadikan tempat hiburan pariwisata. Pembangunan sebuah dunia simulasi lagi – lagi terjadi. Bukankah pada awalnya wisatawan – wisatawan itu datang ke Bali untuk melihat dan belajar dari kebudayaan asli Bali yang nyata, bukan sebuah dunia simulasi. Mengapa para investor dan pemerintah lebih memilih membangun sebuah dunia simulasi daripada harus menyumbangkan dananya untuk peningkatan pendidikan di Bali? Bukankah pendidikan adalah hal yang lebih penting dan “nyata” daripada sekedar membuat taman hiburan yang “tidak nyata”?
 Selain itu bahaya pariwisata juga bisa muncul ketika pihak investor mulai masuk keranah budaya. Perdagangan yang pada awalnya memproduksi benda material yang mengacu pada nilai guna dan nilai tukar, pada abad ini berubah produksi benda material yang berdasarkan nilai tanda dan nilai simbol. Wajar jika dewasa ini apa yang menjadi komoditi utama adalah perdagangan yang bernuasa jasa dan hiburan. Orang hanya berfikir ketika mampu pergi ke bali lalu diposting dalam instagram mereka dapat membuat temannya terkesan. Bali hanya dilihat sebagai sebuah tempat wisata yang memiliki nilai tanda dan simbol yang diperdagangkan. Ketika mereka masuk dalam ranah budaya, ada bahaya besar yaitu reproduksi ulang budaya dengan alasan agar wisatawan banyak datang. Semakin suatu budaya direproduksi semakin terdistorsi budaya itu dari budaya aslinya. Hal yang dikhawatirkan adalah nanti orang – orang akan datang ke Bali dan melihat subak bukan lagi sebuah subak yang dipergunakan sebagai mana mestinya yaitu kebutuhan pertanian, tapi hanya sebagai kebutuhan “pementasan drama” belaka. Subak hanya menjadi tontonan dan semakin terdistorsi dari fungsi aslinya. Subak dilihat sebagai “nilai tanda” kebudayaan yang eksotik, bukan sebagaimana fungsi aslinya yang memiliki nilai guna (mampu memproduksi hasil pertanian). Tradisi hanya akan diketahui sebagai bentuk pertunjukan tanpa tau makna dibalik tradisi tersebut. Lama kelamaan tidak menutup kemungkinan sebuah kebudayaan mungkin akan hilang, terdistorsi dan akan terus reproduksi ulang.

Kesimpulan
 Permasalahan ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di bali saja, tetapi terjadi di seluruh dunia. Kesulitan kita membedakan mana yang semu dan mana yang asli, kesukaan kita terhadap yang artificial daripada yang real merupakan sebuah efek dari teknologi tingkat tinggi itu sendiri. Bali sebagai sebuah budaya besar dengan tradisi – tradisi yang masih asli terus digempur dengan berbagai macam bahaya yang akan membawa kedalam dunia hiperrealitas. Bali terus digempur melalui media informasi yang immaterial dan reproduksi budaya yang material akibat perdagangan jasa. Jika hal ini terus dibiarkan maka tidak akan ada lagi Bali yang nyata dan hanya merupakan sebuah refleksi dari citraan belaka. Bali hanya dilihat sebagai “nilai tanda” belaka, sebuah penanda budaya eksotik, sebuah tempat liburan dan berserang – senang. Bali bukan lagi dilihat dari perspektif “nilai guna”, seperti nilai guna filsafat budaya-nya bagi pengembangan pemahaman masyarakat Indonesia. Bali adalah pariwisata. Bali adalah lahan bisnis. Bali adalah objek devisa negara. Apakah bali masih asli? Mungkin masih “asli” dan belum sepenuhnya menjadi dunia hiperrealitas. Mungkin belum sekarang, mungkin besok atau lusa? Atau mungkin 10 tahun lagi, kita juga tidak tau. Yang pasti 2020 adalah pasar bebas.
Sumber Referensi:
Baudrillard, Jean. 2001. Seduction. Montreal: CTheory Books.
Baudrillard, Jean. 2000. Selected Writings (Ed. 2) (ed Mark Poster). California: Standford Univ. Press.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Postmodernisme: Teori dan Metode. Depok: Rajawali Pers.
Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern (Ed. 7). Jakarta: Prenadamedia Group.




[1] Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
[2] The metaphysical beauty of this ruined abstraction, bearing witness to an imperial pride and rotting like a carcass, returning to the substance of the soil, rather as an aging double ends up being confused with the real thing (Baudrillard, 1983). 
[3] Disneyland is a perfect model of all the entangled orders of simulation. To begin with it is play of illusion and phantasms: pirates, the frontier, future world, etc. (Baudrillard, 1983)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

hanyamanusiabiasasamasepertikaliansemua