Bali
Dunia Hipperealitas?
Fiqri Muliathoha Tuanaya[1]
Pendahuluan
Menurut Baudrillard
sekarang kita hidup di jaman Simulacra,
dimana semua yang ada di hadapan kita ada simulasi hasil reproduksi dari
realitas. Tidak ada lagi hakikat dari realitas yang sebenarnya. Kita lebih
percaya dengan reproduksi hasil realitas, seperti yang biasa ditampilkan di
televisi mapun media informasi lainnya. Simulacra sendiri menurut The Oxford English Dictionary adalah “aksi atau tindakan menirukan dengan maksud
menipu”. Selanjutnya dikemukakan penjelasan lain: asumsi atau penampilan palsu,
kemiripan permukaan, tiruan dari sesuatu. Konsep simulasi seperti ini bisa
diberikan penjelasan dengan simulasi sebagai tiruan pesawat terbang melalui
tiruannya (Lubis, 2014: 180).
Sherry Turkle (1997)
melukiskan tentang realitas visual sebagai berikut: “realitas virtual
memberikan gambaran kehidupan yang lebih nyata dibandingkan dengan kehidupan
nyata itu sendiri”. Yang nyata lenyap karena longsoran simulasi dan yang muncul
adalah realitas yang mengatasi realitas real (hyperrealitas) (Lubis, 2014: 185).
Baudrillard dalam tulisannya yang berjudul Simulacra dan Simulations (1983)
memberikan contoh untuk menggambarkan Simulacrum dan Hyperrealitas ini dengan
sebuah cerita dari Jorge Borges. Cerita ini menceritakan dimana seorang cartographers kekaisaran membuat sebuah
peta yang sangat detail dan akhirnya berhasil memetakan secara keseluruhan dari
wilayah kekaisaran tersebut. Peta yang dibuat oleh cartographers ini nantinya menimbulkan kehebohan dan ditolak oleh
pihak kerajaan. Beberapa sobekannya yang tersisa dibuang didalam gurun pasari (deserts). Keindahan metafisik abstraksi yang
hancur ini, memperlihatkan bukti kebanggaan kekaisaran dan membusuk seperti
bangkai, kembali ke substansinya yaitu tanah, daripada berakhir sebagai akibat
dari pelapukan hal ini malahan berakhir menjadi sebuah kebingungan dengan hal
yang nyata[2].
Dilihat dari contoh diatas kita bisa melihat bahwa sebuah abstraksi dari
realitas tidak hanya direproduksi sekali, tetapi berulang – ulang kali dan
ketika hasil dari reproduksi realitas itu kembali ke yang real dia menjadi tidak dapat dibedakan dengan yang real (melapuk dan bersatu dengan tanah
gurun pasir).
Kita tidak lagi bisa
membagi dengan jelas mana realitas yang benar, mana yang semu, dan mana yang
palsu. Dalam dunia simulasi ini batas antara yang real dengan yang imajiner
atau palsu, tiruan tidak hanya berbaur dan menyatu, tetapi citraan lebih unggul
dan lebih dipercaya dari fakta. Era Simulasi dan hipperrealitas menurut
Baudrillard sebagai bagian rangkaian fase citraan, rangkaian itu dijelaskan
sebagai berikut:
a. Citraan
sebagai refleksi dasar dari realitas.
b. Citraan
menutupi dan mendistorsi realitas.
c. Citraan
menutup ketiadaan atau lenyapnya dasar dari realitas.
d. Citraan
melahirkan ketidakhubungan terhadap berbagai realitas apapun, citraan bukanlah
kemurnian simuclarum itu sendiri (Baudrillard dalam Lubis, 2014: 186).
Sebagai contoh adalah kita membuat sebuah
peta berdasarkan sebuah wilayah, dan nantinya ketika peta itu sudah jadi, kita
lebih percaya pada peta untuk menunjukkan garis pemisah antara suatu wilayah
(contoh perebutan patok batas wilayah di Kalimantan Tengah). Inilah realitas
dari dunia Hiperrealitas coba bandingkan dengan filsafat idealisme Plato. Bisa
dibilang kita mungkin lebih suka hidup dalam simulasi.
Bali
dan Dunia Hiperrealitas
Disneyland
adalah sebuah model sempurna dari semua susunan jeratan simulasi. Semuanya ini
bermula dari sebuah permainan ilusi dan khayalan (phantasm): bajak laut, penjelajah, dunia masa depan, dan lain –
lain[3]. Dunia
simulasi ini dipenuhi oleh berbagai macam alat – alat yang mencoba untuk
membuat rekaan ini terlihat seasli mungkin. Kita menjadi merasakan sensasi berada dalam dunia
lain yang seutuhnya terpisah dari dunia luar. Disneyland memiliki batas –
batasan sendiri berupa tembok, dengan parkiran diluarnya, memperlihatkan sebuah
dunia mikrokosmos buatan. Disneyland dibungkus dengan fakta bahwa ini adalah
sebuah dunia yang “nyata”, yang semuanya adalah bagian dari sebuah negara yang
“nyata” Negara Amerika.
Bali
sebagai pusat pariwisata di Indonesia, sebenarnya memiliki beberapa tempat
mikrokosmos simulasi semacam Disneyland. Seperti contohnya adalah Bali Bird
Park. Bali Bird Park membuat sebuah simulasi dunia lengakap dengan habitat
buatan dimana binatang – binatang (burung dan reptil) dari seluruh Indonesia
dan luar negeri dikumpulkan. Burung – burung itu ditempatkan dalam sebuah area
buatan yang mencontoh habitat asalnya. Kita datang kesana dan melihat burung –
burung secara langsung, tanpa pernah mau langsung ketempatnya. Di Bali Bird
Park sendiri ditempatkan berbagai macam fasilitas yang membuat kita nyaman
pergi berada disana. Kita tidak pernah mau melihat burung jalak bali langsung
di tempatnya Bali Barat, dengan alasan jauh. Kita menjadi lebih percaya dan
suka dengan dunia simulasi daripada, dunia yang “real”. Selain dari bentuk
dunia simulasi yang mampu dilihat bentuknya (material), sebenarnya saat ini ada
beberapa contoh lain reproduksi realitas yang tidak berbentuk tempat. Sebagai
contoh adalah lukisan, foto, film, dan bentuk – bentuk visual lainnya.
Contoh lainnya, ketika kita melihat acara
televisi tentang sebuah acara petualangan, kita cenderung menikmatinya. Padahal
yang ada dihadapan kita bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi merupakan
hasil reproduksi dari realitas. Kita menjadi lebih banyak menghabiskan waktu
didepan layar televisi dari pada harus berpetualang langsung. Kita lebih
menyukai hanya sekedar penikmat atau penonton saja daripada menjadi pelaku. Kita
lebih menyukai menonton pementasan perang pandan melalui TV dari pada harus ke
tempatnya langsung. Kita lebih menyukai keindahan alam Bali dari lukisan
daripada harus melihatnya langsung. Itu yang disebut oleh Baudrillard sebagai
jaman penonton. Selain itu contohnya lainnya, kita jadi menghabiskan waktu
didepan gadget dan menikmati interaksi semu melalui media sosial. Gadget kita
menciptakan sebuah dunia simulasi, dimana media sosial memproyeksikan sebuah
realitas semu interaksi. Kita berinteraksi tanpa harus bertatap muka, hingga
terkadang kita malahan melupakan interaksi yang nyata dengan orang – orang
disekitar kita. Media sosial mendistorsi makna dari sebuah interaksi nyata. Sekarang
mari kita lihat berapa banyak kawan – kawan disekitar kita yang tidak memiliki
akun media sosial? Bisa dihitung dengan jari? Atau malahan tidak bisa dihitung
dengan jari, karena memang tidak ada yang tidak menggunakan media sosial?
Pada dunia
hiperrealitas media informasi, hiburan, komunikasi memberikan pengalaman yang
dominan serta melibatkan kehidupan sehari – hari yang dangkal. Individu
memasuki dunia hiperrealitas melalui teknologi baru. Media berhenti menjadi
cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri, dan bahkan
menjadi lebih nyata dari realitas itu sendiri. Tanpa kita sadar, buku yang kita
baca, film yang kita tonton, semuanya menawarkan gaya hidup lain yang sangat
berbeda dengan gaya hidup khas Kehidupan Bali. Gaya hidup baru ini tentu sangat
berbeda dan kadangkala tidak bisa diterapkan dalam Kebudayaan Bali. Globalisasi
informasi menjadi jembatan yang membawa pemikiran dan gaya hidup baru masuk ke
Bali. Kita perlu filter untuk mampu menyaring informasi – informasi yang terus
berdatangan agar Kebudayaan Bali tidak hilang. Karena seperti yang dibilang di
atas, media menawarkan sebuah realitas yang jauh terlihat sebagai realitas dari
realitas itu sendiri. Jadi hati – hati dengan pemikiran yang ditawarkan oleh
media informasi. Kita tidak bisa lepas dari dunia informasi, tapi paling tidak
kita harus mampu memfilternya. Selain itu bahaya dari citraan semu ini kita
menjadi ketergantungan dengan informasi. Massa dilihat sebagai sebuah “lubang
hitam” yang menyerap semua makna, informasi, komunikasi, pesan, dan sebagainya,
dengan demikian membuat mereka menjadi tidak bermakna… massa menempuh jalan
mereka sendiri, tak mengindahkan upaya yang bertujuan memanipulasi mereka
(kellner dalam Ritzer, 2015: 599). Massa menjadi sangat ketergantungan dengan
media. Individu – individu ini menjadi sekedar penonton dan memilih untuk
menjadi apatis.
Bali dewasa ini sudah
semakin banyak dipenuhi oleh hal – hal yang berbau simulasi baik yang berbentuk
immaterial seperti informasi dan yang berbentuk material. Kebudayaan terus
direproduksi ulang agar mampu menarik minat wisatawan. Lihatlah polemik
pembangunan Teluk Benoa yang katanya akan dijadikan tempat hiburan pariwisata.
Pembangunan sebuah dunia simulasi lagi – lagi terjadi. Bukankah pada awalnya
wisatawan – wisatawan itu datang ke Bali untuk melihat dan belajar dari kebudayaan
asli Bali yang nyata, bukan sebuah dunia simulasi. Mengapa para investor dan pemerintah
lebih memilih membangun sebuah dunia simulasi daripada harus menyumbangkan
dananya untuk peningkatan pendidikan di Bali? Bukankah pendidikan adalah hal
yang lebih penting dan “nyata” daripada sekedar membuat taman hiburan yang
“tidak nyata”?
Selain itu bahaya pariwisata juga bisa muncul
ketika pihak investor mulai masuk keranah budaya. Perdagangan yang pada awalnya
memproduksi benda material yang mengacu pada nilai guna dan nilai tukar, pada
abad ini berubah produksi benda material yang berdasarkan nilai tanda dan nilai
simbol. Wajar jika dewasa ini apa yang menjadi komoditi utama adalah
perdagangan yang bernuasa jasa dan hiburan. Orang hanya berfikir ketika mampu
pergi ke bali lalu diposting dalam instagram mereka dapat membuat temannya
terkesan. Bali hanya dilihat sebagai sebuah tempat wisata yang memiliki nilai
tanda dan simbol yang diperdagangkan. Ketika mereka masuk dalam ranah budaya,
ada bahaya besar yaitu reproduksi ulang budaya dengan alasan agar wisatawan
banyak datang. Semakin suatu budaya direproduksi semakin terdistorsi budaya itu
dari budaya aslinya. Hal yang dikhawatirkan adalah nanti orang – orang akan
datang ke Bali dan melihat subak bukan lagi sebuah subak yang dipergunakan
sebagai mana mestinya yaitu kebutuhan pertanian, tapi hanya sebagai kebutuhan
“pementasan drama” belaka. Subak hanya menjadi tontonan dan semakin terdistorsi
dari fungsi aslinya. Subak dilihat sebagai “nilai tanda” kebudayaan yang
eksotik, bukan sebagaimana fungsi aslinya yang memiliki nilai guna (mampu
memproduksi hasil pertanian). Tradisi hanya akan diketahui sebagai bentuk
pertunjukan tanpa tau makna dibalik tradisi tersebut. Lama kelamaan tidak
menutup kemungkinan sebuah kebudayaan mungkin akan hilang, terdistorsi dan akan
terus reproduksi ulang.
Kesimpulan
Permasalahan ini sesungguhnya tidak hanya
terjadi di bali saja, tetapi terjadi di seluruh dunia. Kesulitan kita
membedakan mana yang semu dan mana yang asli, kesukaan kita terhadap yang
artificial daripada yang real merupakan sebuah efek dari teknologi tingkat
tinggi itu sendiri. Bali sebagai sebuah budaya besar dengan tradisi – tradisi
yang masih asli terus digempur dengan berbagai macam bahaya yang akan membawa
kedalam dunia hiperrealitas. Bali terus digempur melalui media informasi yang
immaterial dan reproduksi budaya yang material akibat perdagangan jasa. Jika hal
ini terus dibiarkan maka tidak akan ada lagi Bali yang nyata dan hanya
merupakan sebuah refleksi dari citraan belaka. Bali hanya dilihat sebagai
“nilai tanda” belaka, sebuah penanda budaya eksotik, sebuah tempat liburan dan
berserang – senang. Bali bukan lagi dilihat dari perspektif “nilai guna”,
seperti nilai guna filsafat budaya-nya bagi pengembangan pemahaman masyarakat
Indonesia. Bali adalah pariwisata. Bali adalah lahan bisnis. Bali adalah objek
devisa negara. Apakah bali masih asli? Mungkin masih “asli” dan belum
sepenuhnya menjadi dunia hiperrealitas. Mungkin belum sekarang, mungkin besok
atau lusa? Atau mungkin 10 tahun lagi, kita juga tidak tau. Yang pasti 2020
adalah pasar bebas.
Sumber
Referensi:
Baudrillard, Jean. 2001. Seduction.
Montreal: CTheory Books.
Baudrillard, Jean. 2000. Selected
Writings (Ed. 2) (ed Mark Poster). California: Standford Univ. Press.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2014.
Postmodernisme: Teori dan Metode. Depok: Rajawali Pers.
Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi
Modern (Ed. 7). Jakarta: Prenadamedia Group.
[1] Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Udayana.
[2] The metaphysical beauty of this ruined
abstraction, bearing witness to an imperial pride and rotting like a carcass,
returning to the substance of the soil, rather as an aging double ends up being
confused with the real thing (Baudrillard, 1983).
[3] Disneyland is a perfect model of all the entangled orders of
simulation. To begin with it is play of illusion and phantasms: pirates, the
frontier, future world, etc. (Baudrillard, 1983)

0 komentar:
Posting Komentar