Renungan Asap Rokok dan Jendela
Kantor
Ding! Dong! Situa
berbunyi. Jam menunjukkan tepat pukul 12 siang. Aku berdiri dilantai tiga
gedung tempatku bekerja sambil merokok dan memandang suasana kota siang ini
dari balik jendela. Gedung tempatku bekerja berbentuk sebuah persegi kokoh dan
kaku, tanpa ornamen – ornamen artistik apapun, khas gedung perkantoran pada
umumnya. Jendela persegi di lantai tiga tempatku bekerja ini memiliki view yang
sangat luas dan menarik. Gedung ini sendiri terletak dijalan utama pusat kota.
Kamu dapat melihat birunya langit luas lengkap dengan awan yang berbentuk kapas
putih ketika kau menengadah. Kamu juga dapat melihat lalu lalang orang – orang yang
berjalan dibawahmu, hingga kamu dapat berfikir bahwa mereka telihat lebih
menyerupai semut antisocial daripada manusia. Selain itu angin sepoi – sepoi yang
berhembus dari luar jendela terasa sejuk dan bercampur dengan aroma khas kota
padat, aroma polusi. Intinya, jendela ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan
kekalutan dan stress akan rutinitas pekerjaan yang tersimbolkan dari banyaknya
tumpukan laporan dan dering berisik telfon kantor yang ada di meja kerjaku.
Gedung tempatku bekerja ini memang
padat dan penuh sesak. Seperti sebuah kotak kardus yang diisi dengan tumpukan
mainan yang dijejalkan dengan awut –
awutan atau mungkin lebih mirip kandang ayam petelor. Bagaimana tidak orang
– orang berlalu lalang membawa tumpukan dokumen dan laporan yang harus
dikerjakannya hari ini, bunyi memuakkan dari telfon kantor yang bordering tanpa
henti, wajah – wajah tanpa ekspresi didepan komputer yang sudah telihat mirip
robot daripada manusia, dan pemandangan rutinitas khas kantor yang sibuk dan
menekan. Apalagi di jaman yang katanya jaman kapitalistik ini, jaman dimana
semuanya diukur dengan angka – angka statistik yang mengatasnamakan
progresivitas keuntungan perusahaan membuat suasana di kantor ini lebih telihat
seperti hutan rimba dimana antara pegawai yang satu dengan yang lain saling
sikut menyikut dan bunuh membunuh demi membuat posisinya diperusahaan tetap
aman. Para pegawai disini sudah terlihat seperti mayat hidup yang hanya
mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya dan sesekali saling memangsa
ketika mereka lapar. Selamat datang di dunia baru.
Muak itu yang akurasakan setiap
hari. Agar aku tetap waras aku memiliki sebuah ritual harian yaitu melamun. Meskipun
aku melamun hanya beberapa menit sambil menghabiskan beberapa batang rokok.
Biasanya aku melamun sambil melihat semut – semut anti sosial lucu yang lalu
lalang dibawahku. Sambil menghisap sebatang rokok aku mulai terbang
berimajinasi kemana – mana. Ya, mungkin hanya rokok yang mampu menyelamatkanku
dan membuatku waras dari semua ini. Sekali lagi, ketika aku menghisap rokok dan
berimajinasi aku merasa bebas, meskipun hanya bebas yang artificial dan sekejab
saja. Tapi, yang namanya bebas ya tetap bebas, bebas dari realitas yang lucu
sekaligus memuakkan. Kepulan asap rokok ini keluar masuk dari mulut,
tenggorokan, paru – paru, kembali ke tenggorokkan, dan ke rongga mulut lagi.
Keluar membentuk sebuah kepulan asap putih, sudah mirip cerobong asap. Asap itu
lalu menghilang begitu saja, entah kemana, mungkin dia sudah menyatu dengan
awan kapas di langit.
Ketika asik melamun, tiba – tiba ada
yang menepuk pundakku. Sialan, rasanya seperti dijatuhkan dari luar angkasa dan
jatuh ke bumi dengan bunyi bruuuk. Sambil penuh rasa terganggu menolehlah aku
untuk melihat pelaku yang sudah mengganggu lamunanku. Ternyata pelakunya adalah
kawanku, bocah yang bernama gagak. Dia berdiri dengan t-shirt warna hitam polos
yang biasa dikenakannya. Sepertinya dia belum mandi.
Dia
berkata dengan nada mencemooh, “sedang apa bung?”
“Aku
sedang melakukan ritual untuk bebas. Dunia ini terasa sangat membingungkan
sekaligus menyakitkan.”
“Maksudmu?
Coba jelaskan?” jawab si bocah yang bernama gagak dengan tatapan sinis.
“Ya
seperti yang kau lihat, melamun, merokok, merasakan angin sepoi – sepoi sambil
melihat lalu lalang orang di bawah.” Jawabku tanpa mengalihkan sedikit pun
wajahku dari kerumunan orang di bawah jendela.
“Sepertinya
itu bukan bebas yang hakiki bung, kau hanya lari. Membiarkan kesadaranmu
terilusi untuk sejenak. Dasar, manusia memang hanya bisa lari dan pura – pura
menikmati semuanya. Hahaha. Dia mengilusi dirinya untuk sejanak, lalu ketika
ilusi berakhir dia kembali berada pada realitas dan tunduk dengan realitas. Itu
yang kau sebut bebas? Itu yang kau sebut menikmati dunia? Tai banteng!” kata si
bocah yang bernama gagak dengan tawa kecil penuh ejekan.
“Lalu,
sekarang aku ingin bertanya seperti apa cara untuk bebas menurutmu. Jangan
hanya bisa mengkritik dan berteori saja, bung. Apakah kau punya solusi?”
Jawabku dengan marah.
“sekarang
lihatlah kumpulan burung yang terbang di atas itu. Apa yang kau pikirkan?
Apakah mereka terkekang dengan dunia? Terkekang dengan realitas? Mereka bebas.
Bahkan dengan gravitasi saja mereka tidak terpengaruh.”
“Lalu
aku harus apa? Menatapnya sampai bosan?” Jawabku.
“Bodoh!
Menatap tidak menyelesaikan masalah. Lompatlah bung! Lompatlah dari jendela dan
terbanglah. Kepakkan sayapmu. Buat apa kau terus disini? Bekerja lalu tua dan
mati? Mencari uang untuk menjadi bahagia? Kata mereka uang bisa membeli
kebahagian? Omong kosong! Logika mana yang mereka pakai? Untuk membeli
kebebasan saja mereka tidak bisa, apalagi kebahagian. Sekarang lompat dan
terbanglah! Apalagi yang kau tunggu. Aku berani jamin kau pasti bebas.” Jawab
bocah yang bernama gagak dengan sombong dan penuh kemenangan.
Tersentak aku dengan perkataan bocah
yang bernama gagak. Mendadak dunia terlihat hitam dan putih, tidak abu – abu
lagi. Kaki dan tanganku gemetar, sudah mirip orang kena penyakit parkinson. Detak
jantungku berdetak sangat cepat. Hari ini untuk pertama kalinya semenjak aku
muda dulu aku merasakan adrenalinku memuncak. Tanpa pikir panjang aku membuka
dasiku. Tanganku yang gemetar aku paksa untuk membuka jas dan kemeja putihku.
Aku mampu melihat gemetar tanganku membuka kancing kemeja putihku dengan
tergesa – gesa dan penuh paksaan. Lalu tanpa baju hanya memakai celana kain seragam
kantor dan bertelanjang kaki aku melangkah dan naik menuju jendela. Angin sepoi
– sepoi dari luar jendela terasa benar – benar mendukungku dan terasa sangat
sejuk, tidak seperti biasaya. Angin itu seperti telah lama menungguku untuk
terbang dan menaklukannya. Pertama – tama aku gemetar ketika melihat jalan dan
terotoar penuh manusia dibawahku, tapi itu hanya bertahan sepersekian detik
saja. Tanpa pikir panjang lagi aku melangkahkan kaki kananku keluar jendela dan
melompat. Aku bisa merasakan angin menerpa wajah dan sela – sela rambutku.
Penuh suka cita aku menikmati hal yang benar – benar aku nantikan selama ini,
semua perkataan bocah yang bernama gagak itu terasa benar, hari ini aku merasakan
bebas. Lalu dalam sekejab mengepaklah sayapku yang sudah lama tidak kugunakan
dan berubahlah aku menjadi burung. Terbang jauh dan tinggi, meninggalkan
realitas semu dibawahku, hari ini aku merasa benar – benar bebas.

0 komentar:
Posting Komentar