Minggu, 06 Maret 2016

Renungan Asap Rokok dan Jendela Kantor

Renungan Asap Rokok dan Jendela Kantor

                Ding! Dong! Situa berbunyi. Jam menunjukkan tepat pukul 12 siang. Aku berdiri dilantai tiga gedung tempatku bekerja sambil merokok dan memandang suasana kota siang ini dari balik jendela. Gedung tempatku bekerja berbentuk sebuah persegi kokoh dan kaku, tanpa ornamen – ornamen artistik apapun, khas gedung perkantoran pada umumnya. Jendela persegi di lantai tiga tempatku bekerja ini memiliki view yang sangat luas dan menarik. Gedung ini sendiri terletak dijalan utama pusat kota. Kamu dapat melihat birunya langit luas lengkap dengan awan yang berbentuk kapas putih ketika kau menengadah. Kamu juga dapat melihat lalu lalang orang – orang yang berjalan dibawahmu, hingga kamu dapat berfikir bahwa mereka telihat lebih menyerupai semut antisocial daripada manusia. Selain itu angin sepoi – sepoi yang berhembus dari luar jendela terasa sejuk dan bercampur dengan aroma khas kota padat, aroma polusi. Intinya, jendela ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan kekalutan dan stress akan rutinitas pekerjaan yang tersimbolkan dari banyaknya tumpukan laporan dan dering berisik telfon kantor yang ada di meja kerjaku.
            Gedung tempatku bekerja ini memang padat dan penuh sesak. Seperti sebuah kotak kardus yang diisi dengan tumpukan mainan yang dijejalkan dengan awut – awutan atau mungkin lebih mirip kandang ayam petelor. Bagaimana tidak orang – orang berlalu lalang membawa tumpukan dokumen dan laporan yang harus dikerjakannya hari ini, bunyi memuakkan dari telfon kantor yang bordering tanpa henti, wajah – wajah tanpa ekspresi didepan komputer yang sudah telihat mirip robot daripada manusia, dan pemandangan rutinitas khas kantor yang sibuk dan menekan. Apalagi di jaman yang katanya jaman kapitalistik ini, jaman dimana semuanya diukur dengan angka – angka statistik yang mengatasnamakan progresivitas keuntungan perusahaan membuat suasana di kantor ini lebih telihat seperti hutan rimba dimana antara pegawai yang satu dengan yang lain saling sikut menyikut dan bunuh membunuh demi membuat posisinya diperusahaan tetap aman. Para pegawai disini sudah terlihat seperti mayat hidup yang hanya mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya dan sesekali saling memangsa ketika mereka lapar. Selamat datang di dunia baru.
            Muak itu yang akurasakan setiap hari. Agar aku tetap waras aku memiliki sebuah ritual harian yaitu melamun. Meskipun aku melamun hanya beberapa menit sambil menghabiskan beberapa batang rokok. Biasanya aku melamun sambil melihat semut – semut anti sosial lucu yang lalu lalang dibawahku. Sambil menghisap sebatang rokok aku mulai terbang berimajinasi kemana – mana. Ya, mungkin hanya rokok yang mampu menyelamatkanku dan membuatku waras dari semua ini. Sekali lagi, ketika aku menghisap rokok dan berimajinasi aku merasa bebas, meskipun hanya bebas yang artificial dan sekejab saja. Tapi, yang namanya bebas ya tetap bebas, bebas dari realitas yang lucu sekaligus memuakkan. Kepulan asap rokok ini keluar masuk dari mulut, tenggorokan, paru – paru, kembali ke tenggorokkan, dan ke rongga mulut lagi. Keluar membentuk sebuah kepulan asap putih, sudah mirip cerobong asap. Asap itu lalu menghilang begitu saja, entah kemana, mungkin dia sudah menyatu dengan awan kapas di langit.
            Ketika asik melamun, tiba – tiba ada yang menepuk pundakku. Sialan, rasanya seperti dijatuhkan dari luar angkasa dan jatuh ke bumi dengan bunyi bruuuk. Sambil penuh rasa terganggu menolehlah aku untuk melihat pelaku yang sudah mengganggu lamunanku. Ternyata pelakunya adalah kawanku, bocah yang bernama gagak. Dia berdiri dengan t-shirt warna hitam polos yang biasa dikenakannya. Sepertinya dia belum mandi.
Dia berkata dengan nada mencemooh, “sedang apa bung?”
“Aku sedang melakukan ritual untuk bebas. Dunia ini terasa sangat membingungkan sekaligus menyakitkan.”
“Maksudmu? Coba jelaskan?” jawab si bocah yang bernama gagak dengan tatapan sinis.
“Ya seperti yang kau lihat, melamun, merokok, merasakan angin sepoi – sepoi sambil melihat lalu lalang orang di bawah.” Jawabku tanpa mengalihkan sedikit pun wajahku dari kerumunan orang di bawah jendela.
“Sepertinya itu bukan bebas yang hakiki bung, kau hanya lari. Membiarkan kesadaranmu terilusi untuk sejenak. Dasar, manusia memang hanya bisa lari dan pura – pura menikmati semuanya. Hahaha. Dia mengilusi dirinya untuk sejanak, lalu ketika ilusi berakhir dia kembali berada pada realitas dan tunduk dengan realitas. Itu yang kau sebut bebas? Itu yang kau sebut menikmati dunia? Tai banteng!” kata si bocah yang bernama gagak dengan tawa kecil penuh ejekan.
“Lalu, sekarang aku ingin bertanya seperti apa cara untuk bebas menurutmu. Jangan hanya bisa mengkritik dan berteori saja, bung. Apakah kau punya solusi?” Jawabku dengan marah.
“sekarang lihatlah kumpulan burung yang terbang di atas itu. Apa yang kau pikirkan? Apakah mereka terkekang dengan dunia? Terkekang dengan realitas? Mereka bebas. Bahkan dengan gravitasi saja mereka tidak terpengaruh.”
“Lalu aku harus apa? Menatapnya sampai bosan?” Jawabku.
“Bodoh! Menatap tidak menyelesaikan masalah. Lompatlah bung! Lompatlah dari jendela dan terbanglah. Kepakkan sayapmu. Buat apa kau terus disini? Bekerja lalu tua dan mati? Mencari uang untuk menjadi bahagia? Kata mereka uang bisa membeli kebahagian? Omong kosong! Logika mana yang mereka pakai? Untuk membeli kebebasan saja mereka tidak bisa, apalagi kebahagian. Sekarang lompat dan terbanglah! Apalagi yang kau tunggu. Aku berani jamin kau pasti bebas.” Jawab bocah yang bernama gagak dengan sombong dan penuh kemenangan.

            Tersentak aku dengan perkataan bocah yang bernama gagak. Mendadak dunia terlihat hitam dan putih, tidak abu – abu lagi. Kaki dan tanganku gemetar, sudah mirip orang kena penyakit parkinson. Detak jantungku berdetak sangat cepat. Hari ini untuk pertama kalinya semenjak aku muda dulu aku merasakan adrenalinku memuncak. Tanpa pikir panjang aku membuka dasiku. Tanganku yang gemetar aku paksa untuk membuka jas dan kemeja putihku. Aku mampu melihat gemetar tanganku membuka kancing kemeja putihku dengan tergesa – gesa dan penuh paksaan. Lalu tanpa baju hanya memakai celana kain seragam kantor dan bertelanjang kaki aku melangkah dan naik menuju jendela. Angin sepoi – sepoi dari luar jendela terasa benar – benar mendukungku dan terasa sangat sejuk, tidak seperti biasaya. Angin itu seperti telah lama menungguku untuk terbang dan menaklukannya. Pertama – tama aku gemetar ketika melihat jalan dan terotoar penuh manusia dibawahku, tapi itu hanya bertahan sepersekian detik saja. Tanpa pikir panjang lagi aku melangkahkan kaki kananku keluar jendela dan melompat. Aku bisa merasakan angin menerpa wajah dan sela – sela rambutku. Penuh suka cita aku menikmati hal yang benar – benar aku nantikan selama ini, semua perkataan bocah yang bernama gagak itu terasa benar, hari ini aku merasakan bebas. Lalu dalam sekejab mengepaklah sayapku yang sudah lama tidak kugunakan dan berubahlah aku menjadi burung. Terbang jauh dan tinggi, meninggalkan realitas semu dibawahku, hari ini aku merasa benar – benar bebas.
cerpen oleh: fiqri tuanaya

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

hanyamanusiabiasasamasepertikaliansemua