Waktu berubah begitu cepat. Tidak terasa
berapa detik berlalu dalam satu tegukan nafas, dan “hoop” tiba – tiba sudah
tanggal 4 April 2016. Tidak terasa, sudah berapa detik yang kita sia – siakan selama
ini. Detik – detik yang kita habiskan hanya untuk sesuatu yang bahkan tidak
kita ketahui “apa” dan “bagaimana” – nya. Semua dengan mudahnya berlalu dan
memudar begitu saja. Akhirnya ingatan itu pun bercampur dengan imajinasi hasil
interpretasi masa lalu, yang bisa jadi adalah sebuah fiksi, mungkin? Kita terjebak
dalam di“Ada”kan yang menyiksa, “L'existence précède l'essence”. Terletak di tengah – tengah, antara masa lalu
dan masa depan. Terletak diantara fiksi dan ekspetasi. Kita yang terjebak di
tengah – tengah ini, kita yang di“Ada”kan ini, hanya bisa terus bergerak. Bergerak
berkreatifitas mencari makna dari ke“Ada”an-nya kita. Tetapi ke“Ada”an kita
yang mendahului “esensi” jangan dilihat dari perspektif muram. Toh,
pada akhirnya kita hanya harus menciptakan diri kita sendiri kan, karena apalah
arti hidup jika kita menyerah begitu saja dibentuk oleh realitas – realitas sosial
yang bahkan tidak pantas disebut “realitas”.
Kita yang dituntut untuk
terus berubah dalam gerak kreatifitas, pada akhirnya harus kembali kepada bayang - bayang kisah antara Faust dan Memphistopheles. Sebuah kisah yang berkutat antara pepatah “memento mori” atau “carpe diem”. Jika ingin bahagia, saran saya, kedua pepatah itu jangan dipisahkan layaknya
para strukturalis membedah dengan
pisau difference – ingnya. Kita harus
melihatnya dalam kerangaka kesatuan akan perbedaannya. Jadi tetap semangat dan memento mori – carpe diem! J
ditulis sambil mendengarkan lagu - lagu dari album Glitterbug (2015) - nya The Wombats.

0 komentar:
Posting Komentar